Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Radio Galau FM (2012)

Karena satu dan lain hal, sebuah film yang berjudul Radio Galau FM sama sekali tidak berkisah maupun menyinggung mengenai kehidupan di dunia radio. Satu-satunya hal yang berkaitan dengan radio di film ini adalah ketika karakter utamanya mendengarkan sebuah program radio yang penyiarnya berusaha untuk mengumpulkan para pendengarnya yang sedang mengalami kegalauan hati. Radio Galau FM justru merupakan sebuah drama komedi romantis yang berorientasi pada kehidupan percintaan di usia remaja yang dialami para karakternya. Menjadi remaja – suatu periode ketika manusia sedang berusaha mencari jati dirinya – memang bukanlah sebuah proses yang mudah untuk dijalani. But seriously… apakah romansa di kalangan remaja modern memang semengerikan apa yang digambarkan di dalam film ini?

Bara Mahesa (Dimas Anggara) adalah karakter utama dalam jalan cerita Radio Galau FM ini. Sosok pemuda pelajar sekolah menengah atas ini memiliki penampilan fisik cukup lumayan namun sayangnya memiliki riwayat percintaan yang tidak begitu menyenangkan. Setelah tiga tahun tidak memiliki kekasih – dan selalu merasa uring-uringan karenanya, Bara kemudian berkenalan dengan adik kelasnya yang bernama Velin Caliandra (Natasha Rizki). Singkat cerita, dari awalnya berteman, Bara akhirnya merasa bahwa Velin adalah sosok yang sempurna untuk menjadi kekasihnya. Bara dan Velin kemudian resmi pacaran. Sayangnya… setelah beberapa saat, Bara mulai menyadari kalau Velin tidak sesempurna yang ia bayangkan.

Hubungan Bara dengan Velin semakin menjauh ketika Bara mengenal kakak kelasnya yang bernama Diandra Pramita (Alisia Rininta). Seperti halnya Bara, Diandra sedang mengalami masalah dalam kehidupan percintaannya. Ia menganggap kekasihnya, yang merupakan seorang mahasiswa, tidak pernah mampu mengerti akan dirinya. Merasa senasib, Bara dan Diandra akhirnya menjadi sepasang kekasih – terlepas dari fakta bahwa mereka masing-masing juga masih memiliki pasangan masing-masing. Sial bagi Bara, Diandra juga tidak sesempurna yang ia bayangkan. Akhirnya, kini Bara terjebak dalam kegalauan perasaan diri sendiri atas berbagai problematika romansa yang ia alami.

Radio Galau FM sendiri diadaptasi dari buku berjudul sama karya Bernard Batubara yang berisi kumpulan cerita pendek bertemakan kegalauan hati (baca: kerisauan hati – jika Anda masih asing dengan kata galau) penulisnya ketika berhadapan dengan berbagai problema cinta. Sama seperti Poconggg Juga Pocong (2011), cerita-cerita pendek yang terangkum dalam buku Radio Galau FM sendiri terinpirasi dari kumpulan tweet bertema sama yang dikaryakan oleh Bernard melalui akun Twitter-nya @RadioGalauFM yang telah memiliki puluhan ribu followers tersebut. Radio Galau FM mungkin dimaksudkan sebagai sebuah film drama komedi romansa yang mampu menangkap berbagai fenomena percintaan yang terjadi kalangan remaja modern. Alih-alih menjadi sebuah film dengan kesan romansa yang hangat, Radio Galau FM justru terkesan datar dalam penceritaan dramanya yang mengekploitasi kisah drama percintaan remaja yang dilakukan secara berlebihan serta diisi dengan sifat karakter-karakter yang begitu mengganggu.

Beberapa orang mungkin akan berargumen bahwa karakter-karakter yang dihadirkan dalam Radio Galau FM adalah deretan karakter yang sesuai dengan sikap kaum remaja saat ini – khususnya ketika berkaitan dengan masalah percintaan. Namun tetap saja, perubahan-perubahan sikap yang dialami karakter Velin dan Diandra, misalnya, setelah mereka menempuh masa berpacaran dengan karakter Bara, lebih cenderung terlihat sebagai klise dan mengada-ada daripada sebagai gambaran remaja modern yang akurat. Karakter Bara, yang seharusnya mendapatkan rasa simpati dari penonton atas berbagai perjuangan dan masalah cinta yang ia alami, juga mengalami perubahan sikap dan karakter mendadak di pertengahan film. Bara yang seharusnya menjadi romantic hero justru berubah menjadi sosok plin-plan yang akhirnya justru menelan karma percintaannya sendiri. Penggambaran sikap remaja modern? Boleh saja. Namun rasa kesulitan untuk memiliki hubungan emosional terhadap para karakter dalam sebuah jalan cerita jelas bukan sebuah hal yang dapat diabaikan begitu saja.

Setidaknya, karakter-karakter dalam Radio Galau FM setidaknya mampu dibawakan dengan baik oleh para jajaran pemerannya. Dimas Anggara jelas belum memiliki daya tarik yang kuat untuk diletakkan di garda terdepan penampilan sebuah film. Walau begitu, Iqbal Rais mampu membuat Dimas mengeluarkan penampilan terbaiknya untuk tampil sebagai karakter utama. Hal yang sama juga berlaku bagi dua pendamping Dimas,  Natasha Rizki dan Alisia Rininta. Yang paling mampu mencuri perhatian jelas adalah penampilan Joehana Sutisna yang berperan sebagai karakter ayah Bara. Kehadirannya dalam setiap adegan mampu tampil begitu komikal dan memancing hiburan yang maksimal.

Radio Galau FM memiliki kualitas produksi yang jelas tidak mengecewakan, baik dari segi tata audio maupun visual. Andhika Triyadi, sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya adalah seorang komposer musik yang sangat mampu meracik tatanan musik yang mampu mengisi kekosongan emosional sebuah jalinan cerita. Tata musik Andhika sendiri tidak semaksimal yang ia tampilkan dalam Hari Untuk Amanda (2010) maupun Perahu Kertas (2012). Namun sangatlah jelas terasa bahwa ketika komposisi musik arahan Andhika mulai menyeruak diantara jalinan cerita, Radio Galau FM berhasil muncul menjadi sebuah presentasi cerita yang lebih baik.

Mungkin Radio Galau FM bekerja secara berbeda bagi mereka yang memang menjadi target penonton utama dari film ini. Pun begitu, tidak dapat disangkal bahwa – terlepas dari kemampuan Haqi Achmad sebagai penulis naskah film dalam meramu dialog-dialog romansa cheesy menjadi begitu menghibur serta keberhasilan Iqbal Rais dalam mengarahkan para pemainnya serta kualitas produksi film ini secara keseluruhan – Radio Galau FM memiliki kelemahan yang begitu besar pada jalinan ceritanya yang dangkal dan klise serta karakter-karakter yang jauh dari kesan mudah untuk disukai. Bukanlah sebuah presentasi yang buruk, namun jelas masih jauh dari kualitas yang istimewa.


   Rating IMDB     :  7.8/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  13 September 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Dimas Anggara, Natasha Rizki
   Genre               :  Comedy | Drama
   Size                  :  350MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-350MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Test Pack (2012)

Diangkat dari novel berjudul sama karya Ninit Yunita yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, Test Pack: You Are My Baby berkisah mengenai pasangan menikah, Rachmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa), yang sedang berupaya untuk melengkapi susunan keluarga mereka dengan memperoleh seorang anak. Sebenarnya, kehadiran seorang anak dalam pernikahan Rachmat dan Tata bukanlah sebuah hal yang dirasa penting. Namun, setelah usia pernikahan yang telah mencapai tujuh tahun, Tata akhirnya merasa bahwa kehadiran seorang anak adalah sebuah hal yang wajib. Akibatnya, kini keseharian hidup pasangan itu dihiasi dengan berbagai eksperimen yang dinilai dapat membantu mereka untuk mendapatkan seorang penerus garis keturunan. Sayangnya… usaha tersebut sepertinya tidak kunjung berhasil.

Setelah beberapa saat, Rachmat dan Tata memutuskan bahwa kini adalah saat yang tepat bagi mereka untuk mendapatkan opini dari seorang ahli medis. Beberapa kali kunjungan konsultasi ke ahli kandungan ternyata memberikan tekanan mental yang begitu kuat kepada Rachmat. Ia menjadi merasa ketakutan bahwa dirinya adalah faktor yang membuat pernikahan mereka tidak kunjung dikaruniai seorang anak hingga kini. Ketakutan tersebut kemudian mendorong Rachmat secara perlahan menjauh dari Tata… dan berhubungan kembali dengan mantan kekasihnya, Shinta (Renata Kusmanto) – yang ternyata baru saja diceraikan suaminya, Heru (Dwi Sasono), akibat tidak mampu memberikan keturunan. Niat yang awalnya untuk memperoleh sebuah berkah justru kemudian berbalik menjadi ujian terbesar dalam pernikahan Rachmat dan Tata.

Dengan tema penceritaannya yang jauh lebih dewasa, Test Pack: You Are My Baby jelas akan mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi para penggemar drama romansa Indonesia yang menganggap Perahu Kertas sedikit bernuansa terlalu remaja bagi mereka. Dengan naskah yang diadaptasi oleh Adhitya Mulya, Test Pack: You Are My Baby mampu menghadirkan rangkaian drama yang dengan fasih menangkap bagaimana setiap usaha dari kedua karakter utamanya dalam memperoleh keturunan. Berbeda dengan kebanyakan drama romansa lainnya, sama sekali tidak ada yang dihadirkan secara berlebihan dalam film ini. Setiap bagian drama dihadirkan secara natural – tanpa pernah terlihat berusaha keras untuk mencoba membuat penontonnya merasa tersentuh akan kisah yang disajikan – dengan deretan karakter yang juga begitu membumi dan mudah untuk untuk disukai.

Tantangan terbesar bagi Monty Tiwa jelas adalah bagaimana untuk mendeskripsikan Test Pack: You Are My Baby yang hanya berisi dua konflik besar tersebut menjadi sebuah jalan penceritaan berdurasi 109 menit tanpa pernah terasa membosankan. Well… pada beberapa bagian, usaha tersebut berhasil. Dengan memasukkan unsur komedi yang datang dari karakter-karakter seperti dr Peni S. – seriously! – atau pasangan Bapak dan Ibu Sutoyo, penonton diberikan penyegaran yang cukup layak untuk kemudian dapat kembali ke akar permasalahan film ini yang sebenarnya. Namun, Test Pack: You Are My Baby juga tidak lepas dari momen-momen dimana konflik usaha mendapatkan keturunan yang dialami oleh pasangan karakter Rachmat dan Tata telah terasa terlalu panjang atau kisah hubungan antara karakter Rachmat dan Shinta yang gagal untuk tampil lebih mendalam dan justru seringkali terlihat klise.

Karakter-karakter dalam jalan cerita Test Pack: You Are My Baby dihadirkan secara begitu sederhana dan tidak pernah tampil begitu overly-dramatic. Selain dari keberhasilan Adhitya Mulya dalam menggambarkan deretan karakter tersebut, mudahnya penonton untuk merasa terkoneksi pada jalan cerita film ini juga muncul akibat briliannya penampilan para pengisi departemen akting yang menghidupkan karakter-karakter tersebut. Reza Rahadian… well… salah satu aktor terbaik di generasinya dan berhasil kembali membuktikan gelar tersebut dalam perannya sebagai Rachmat di film ini. Acha Septriasa juga berhasil menampilkan kedewasaan penampilannya, baik secara akting maupun… ehmmm… penampilannya. Chemistry yang tercipta antara Reza dan Acha juga tampil begitu kuat dan meyakinkan. Monty Tiwa juga berhasil mengeluarkan sisi terbaik dari penampilan Renata Kusmanto – yang memang seringkali terlihat datar dalam kebanyakan penampilannya, namun berhasil tampil kuat di film ini. Dukungan penampilan akting lainnya dari Meriam Bellina, Jaja Mihardja, Oon, Gading Marten, Uli Herdinansyah serta Dwi Sasono mampu mempertegas kualitas departemen akting di film ini.

Selain deretan lagu latar yang terasa begitu mengganggu – please, Monty. Make it stop! – karena dinyanyikan oleh deretan penyanyi dengan kualitas vokal yang medioker serta beberapa bagian penceritaan yang terasa dieksplorasi terlalu panjang maupun tidak berhasil digali dengan lebih mendalam, Test Pack: You Are My Baby adalah sebuah drama romansa yang berhasil tampil kuat. Naskah cerita dan deretan karakter yang sederhana mampu dieksekusi Monty Tiwa menjadi sebuah drama kehidupan yang berhasil hadir dengan meyakinkan. Didukung dengan deretan penampilan akting berkelas dari Reza Rahadian, Acha Septriasa dan Renata Kusmanto, Test Pack: You Are My Baby adalah sebuah drama romansa dewasa yang telah lama dirindukan hadir di industri film Indonesia.

   Rating IMDB     :  7.4/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  6 September 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Reza Rahadian, Acha Septriasa
   Genre               :  Comedy | Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Fallin' in Love (2012)

Jelas akan ada beberapa kekhawatiran bagi sebagian orang sebelum mereka menyaksikan Fallin’ in Love: film drama romansa ini diarahkan oleh Findo Purnomo HW – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Love in Perth (2010), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Ayah, Mengapa Aku Berbeda (2011), naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio – yang bertanggungjawab atas keberadaan jalan cerita film Air Terjun Pengantin (2009), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Pupus (2011), serta diproduseri oleh Firman Bintang – yang, sejujurnya, sama sekali belum pernah menjadi seorang produser bagi film yang dapat disebut berkualitas. Tiga kombinasi yang berbahaya dan… Anda dapat menebak bagaimana kualitas akhir Fallin’ in Love bahkan semenjak sepuluh menit pertama film ini dimulai.

Phew. Fallin’ in Love berkisah mengenai seorang gadis remaja bernama Larasati (Mikha Tambayong) yang seumur hidupnya baru mengenal kata dan rasa cinta dari sahabat-sahabatnya maupun film-film drama romansa buatan industri film Korea yang selalu ia gemari… sampai akhirnya ia bertemu dengan Rado (Adly Fairuz), kakak kelasnya yang juga merupakan seorang bintang softball. Larasati sendiri secara perlahan berhasil menarik perhatian Rado. Namun sayang, mantan kekasih Rado, yang juga kakak kelas Larasati, Nita (Agesh Palmer), ternyata masih belum merelakan Rado direbut oleh gadis lainnya. Akhirnya Larasati sering menerima tekanan dari Nita dan teman-temannya. Dan sayangnya, Rado juga seringkali lebih memihak kepada Nita daripada Larasati.

Dalam kekecewaannya, Larasati akhirnya memutuskan untuk bolos dari sekolahnya dan berliburan ke rumah neneknya di Lembang – yang, by the way, mendukung penuh bolosnya Larasati dari sekolahnya demi mengobati sakit hatinya. Yeahhh… modern Grandma. Di rumah neneknya, Larasati kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Beben (Boy William) – yang meski berasal dari desa dan anggota keluarga yang sama sekali tidak memiliki tampang seperti warga negara asing, namun memiliki tampang seperti warga negara asing… dan kesulitan untuk berkata-kata dalam Bahasa Indonesia. Dan segera saja… Larasati terlibat sebuah permainan hati lainnya dengan Beben. Lalu bagaimana dengan Rado? Apakah Larasati telah benar-benar melupakan kakak kelas yang sebelumnya sangat ia kagumi itu?

Yahhh… semua hal yang dapat Anda tebak dari sebuah drama romansa remaja yang berkisah mengenai cinta segitiga dapat Anda tebak di film ini. Oh. Selain memiliki jalan cerita yang jauh dari kesan inovatif dan menarik, Fallin’ in Love juga memiliki deretan pemeran yang hadir dengan kemampuan kuat untuk membuat setiap penonton merasa sangat membenci mereka. Mikha Tambayong tampil dengan sekuat tenaganya untuk hadir dalam kemampuan akting yang sangat berlebihan… dan palsu. Ia membuat karakter Larasati menjadi begitu hiperaktif dalam menunjukkan emosinya. Tertawa berlebihan, tersenyum berlebihan, tangis yang berlebihan dan bertingkah secara berlebihan. Mungkin Findo Purnomo HW mengarahkan Mikha untuk meniru akting para aktris film-film drama romansa dario industri film Korea yang selalu terlihat centil dalam tiap gerak-geriknya. Sayang… Mikha justru menjadikan Larasati terlihat sebagai karakter dengan tingkat intelejensia yang rendah daripada terlihat imut maupun centil.

Dan kemudian dua pria yang berusaha memperebutkan gelar sebagai aktor dengan kemampuan berekspresi terburuk dari hati Mikha Tambayong, Adly Fairuz dan Boy William. Boy William harus diakui masih sangat memiliki keterbatasan dalam menampilkan ekspresi wajah dan kemampuan aktingnya – plus, kemampuannya dalam menghilangkan aksen luar negerinya. Namun, untuk film ini, setidaknya ia berusaha kuat untuk berbahasa dalam Bahasa Sunda. Lihat apa yang dilakukan Adly Fairuz. Man… pria ini dipastikan tidak akan ada selamat jika ada seorang pembunuh yang menahan dirinya kemudian meminta dirinya berakting dengan meyakinkan guna menyelamatkan nyawanya. Adly hadir dengan ekspresi wajah yang sama… di sepanjang film! Yang cukup mengherankan adalah untuk melihat keputusan Findo untuk menjadikan Adly sebagai karakter remaja pria dari kota sementara Boy William memerankan karakter remaja pria dari desa. Bukankah penampilan fisik mereka menampilkan hal yang sebaliknya?

Kecuali beberapa aktor senior yang tampil dalam film ini, seperti Yati Surachman yang selalu tampil meyakinkan, Fallin’ in Love sama sekali tidak memiliki kelebihan yang berarti dalam kualitas departemen aktingnya. Jika pemerannya tidak berlebihan dalam menampilkan perannya, maka pemerannya terlihat sama sekali tidak mampu berakting. Jangan ditanyakan soal kualitas penulisan cerita. Alim Sudio sepertinya menuliskan naskah film ini dalam waktu 30 menit dengan berbagai referensi segala cerita film yang akan mampu membuat penontonnya merasa muak dengan segala hal yang berbau percintaan remaja. Fallin’ in Love adalah sebuah film yang memberikan nama buruk bagi film-film drama romansa remaja. Salah satu film Indonesia terburuk untuk tahun ini.

   Rating IMDB     :  0.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  20 September 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Adly Fayruz, Mikha Tambayong
   Genre               :  Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Keumala (2012)

Dikenal sebagai seorang editor bagi sederetan film Indonesia seperti Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Under the Tree (2008) dan Hari Untuk Amanda (2010) – yang berhasil memberikannya nominasi Penata Gambar Terbaik di ajang Festival Film Indonesia – Andhy Pulung mencoba untuk menguji kemampuannya dalam memimpin langsung proses produksi sebuah film dengan menjadi sutradara bagi film Keumala. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Dirmawan Hatta (The Mirror Never Lies, 2011), Keumala mencoba untuk menawarkan romantisme sebuah kisah cinta remaja lewat deretan dialog puitis yang terjalin di dalam jalan ceritanya. Ritme ceritanya yang lamban mungkin akan menjadi masalah bagi beberapa orang. Namun dengan Keumala, Andhy mampu menunjukkan bahwa ia dapat menjaga stabilitas kisah yang ia hantarkan dengan cukup baik dan membuat kisah cinta yang sebenarnya sederhana hadir dengan makna yang lebih mendalam.

Keumala mengisahkan cerita romansa yang terbentuk antara dua karakter yang memiliki latar belakang kepribadian yang begitu berbeda. Keumala (Nadia Vega) adalah seorang penulis yang cukup populer namun dengan ego dan keangkuhan diri yang begitu besar. Keangkuhan tersebut mendapatkan ujian yang begitu besar ketika dirinya bertemu dengan Langit (Abimana Arya), seorang fotografer dengan sifat yang tak kalah angkuhnya, dalam sebuah perjalanan laut dari Jakarta menuju Medan. Perkenalan mereka berawal dari perebutan lokasi yang terjadi antara keduanya dalam memperoleh lokasi terbaik untuk menangkap suasana senja – Keumala berusaha menangkapnya dengan sketsa gambar yang ia hasilkan, sementara Langit bersiap menangkap momen tersebut dengan kamera yang selalu ia bawa dimanapun ia berada. Begitu saling membenci pada awalnya, namun pada akhirnya keduanya saling menyukai satu sama lain… walau tidak pernah menyatakan perasaan mereka secara langsung.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keumala yang semenjak lama telah didiagnosa sedang menderita Retinitis pigmentosa, sebuah penyakit yang lama-kelamaan akan membawakan kebutaan pada penderitanya, memilih untuk meninggalkan Langit karena tidak mau pria tersebut tahu mengenai kondisinya. Keumala kemudian memilih untuk mengasingkan diri dari dunia luar dan tinggal sendiri di sebuah cottage yang terletak di wilayah pinggiran laut Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Lewat bantuan seorang gadis kecil bernama Inong (Shilla Vaqa Ismi), Keumala kemudian berkenalan dengan seorang peneliti bernama Arthur. Berbeda dengan Keumala yang kini berada dalam kondisi buta, Arthur terlahir dalam kondisi bisu. Secara perlahan, keduanya mulai saling mendekat, dan melengkapi satu sama lain.

Tantangan dalam penceritaan Keumala tentu saja adalah bagaimana agar deretan dialog yang mengandung jutaan kata bernuansa puitis yang terkandung dalam jalan cerita film ini mampu terdengar wajar, tidak berlebihan maupun terdengar tidak masuk akal untuk diungkapkan dalam dialog yang mengalir antara kedua karakter utamanya. Tidak selalu berhasil, sayangnya. Pada beberapa bagian, dialog-dialog puitis tersebut mampu melaksanakan tugasnya untuk menghasilkan atmosfer romansa yang kuat bagi jalan cerita Keumala, khususnya ketika dua karakter utamanya sedang berada dalam satu adegan yang sama. Namun pada beberapa bagian, ditambah dengan adegan-adegan yang kurang tergarap dengan kuat, dialog-dialog puitis tersebut justru membuat Keumala menjadi bertele-tele dalam penceritaannya.

Dengan durasi jalan cerita yang berjalan selama 104 menit, Keumala sayangnya tidak mampu menghadirkan momen yang benar-benar dapat tampil lugas dalam penyampaian sisi emosional ceritanya. Tentu, beberapa momen melankolis berhasil dihadirkan oleh Andhy Pulung lewat penjagaan stabilitas ritme kisah yang cukup rapi. Namun, karakterisasi yang sedikit terbatas membuat deretan kisah yang hadir dalam film ini seringkali terasa lamban dan mengganggu. Pemilihan ending cerita juga terkesan dapat mudah ditebak dan semakin terasa kurang mengesankan karena cara eksekusinya yang kurang mampu hadir secara menyeluruh.

Memanfaatkan latar belakang alam kota Sabang yang indah, tata sinematografi dari Keumala hadir menjadi salah satu unsur kunci terkuat dalam penceritaan film ini. Penampilan akting yang diberikan jajaran pengisi departemen akting film ini juga tidak mengecewakan. Terlepas dari karakter-karakter yang mereka perankan sedikit kurang mampu tampil simpatik, Nadia Vega dan Abimana Arya mampu memberikan kinerja terbaik dalam menghidupkan peran mereka. Begitu pula dengan Shilla Vaqa Ismi dan Cut Yanti yang memberikan penampilan pendukung yang cukup kuat walaupun karakter yang mereka perankan harus hadir tanpa kedalaman karakterisasi yang berarti.

Masih merupakan sebuah kisah romansa yang mencoba tampil menyentuh dengan kisah melankolias yang dihadirkan dalam jalinan naskah ceritanya, Keumala sedikit tampil berbeda dengan kehadiran dialog-dialog nan puitis yang menghiasi setiap baris kalimat yang dituturkan para karakter di film ini. Untungnya, porsi puitis dalam naskah cerita film ini mampu dihadirkan secara wajar, hingga sama sekali tidak (baca: belum) terasa mengganggu. Terlepas dari jalan ceritanya yang sedikit terasa lamban dan terseret-seret, khususnya di bagian pertengahan film, tata sinematografi dan akting dua aktor utama Keumala membuat film ini masih cukup layak untuk dinikmati.

   Rating IMDB     :  0.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  1 March 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Nadia Vega, Abimana Aryasatya
   Genre               :  Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


The Dancer (2011) / Sang Penari (2011)

Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.

Srintil (Prisia Nasution) adalah seorang gadis yang semenjak lama mendambakan bahwa dirinya akan terpilih sebagai seorang ronggeng. Tidak hanya sebagai wujud terima kasihnya pada sang leluhur, Ki Secamanggala, karena telah memberikan kehidupan maksmur pada warga Dukuh Paruk, namun juga sebagai pengobat bagi rusaknya nama baik orangtuanya yang secara tidak sengaja pernah membunuh banyak warga Dukuh Paruk lewat tempe bongkrek buatan mereka. Dengan bantuan Rasus (Oka Antara), pria yang telah menjadi sahabat Srintil semenjak kecil dan kini memendam perasaan cinta yang mendalam kepadanya, Srintil berhasil terpilih sebagai seorang ronggeng. Dan layaknya seorang ronggeng, Srintil memulai masa tugasnya untuk ‘melayani’ masyarakat. Rasus yang tidak rela berbagi cinta dan kasih Srintil memilih untuk menyingkir dari Dukuh Paruk. Namun, sebuah elegi zaman – dan tragedi pahit – akan kembali mempertemukan mereka dan memberikan kisah akhir pada perjalanan cinta antara keduanya.

Ada banyak hal yang coba disarikan Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Namun, konflik cinta segitiga antara karakter Srintil, Rasus serta kecintaan dan pengorbanan Srintil pada dunia ronggeng jelas merupakan sebuah fokus sekaligus kekuatan utama mengapa Sang Penari dapat tampil begitu memikat di setiap perjalanan kisahnya. Layaknya kisah-kisah cinta klasik yang mampu menyentuh setiap penontonnya, Salman, Ifa dan Shanty mampu membangun karakterisasi yang kuat bagi karakter Srintil dan Rasus. Keduanya tampil dengan rasa cinta yang kuat antara satu dengan yang lain. Namun, rasa cinta tersebut kemudian tertutupi dengan ego mereka atas kecintaan mereka terhadap sisi kehidupan lain mereka. Pertentangan inilah yang membuat kisah cinta antara Srintil dan Rasus tidak pernah mampu menyatu dengan baik dan Ifa Isfansyah berhasil membangunnya dengan sangat cermat sehingga mampu membentuk sisi emosional yang kuat dari penonton.

Tak hanya menyuguhi kisah cinta, Sang Penari juga mampu memberikan deretan kisah pendukung yang kuat kepada para penontonnya. Mulai dari bagaimana cara pandang tradisional mengenai kehidupan para ronggeng, merasuknya kehidupan (serta cara pandang) modern secara perlahan kepada kehidupan warga desa Dukuh Paruk, sebuah twist atas tragedi kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia yang kemudian secara cerdas dijadikan benang merah kepada kehidupan para masyarakat Dukuh Paruk. Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memang adalah salah satu karya sastra penting dalam catatan literatur Indonesia yang mampu mengolah begitu banyak faham, ideologi dan pemikiran di balik kisah cinta yang menjadi menu utamanya. Tidak mengherankan memang, jika ketika berada di tangan yang tepat, Ronggeng Dukuh Paruk mampu diterjemahkan menjadi sebuah film yang benar-benar mampu tampil kuat. Dan Sang Penari, tanpa diragukan lagi, adalah wujud dari terjemahan kuat tersebut.

Selain mendapat sokongan jalan cerita yang cerdas dan kuat, tata produksi Sang Penari merupakan tata produksi kelas atas yang sangat jarang untuk ditemui di film-film Indonesia belakangan ini. Pemerhatian terhadap detil yang mendukung kekuatan cerita di film ini tampil begitu kuat. Mulai dari tata busana, tata rias hingga dekorasi tata visual yang menjadi latar belakang cerita dihadirkan dengan begitu jeli dan seksama. Tata sinematografi yang diberikan Yadi Sugandi dalam Sang Penari juga benar-benar menghipnotis! Tidak hanya indah, namun mampu berbicara secara emosional. Lihat adegan akhir film ini dimana Yadi menyediakan sebuah gambar dengan lanskap luas atas kepergian karakter Srintil dan Sakum. Sebuah pilihan gambar yang membuat ending film ini terasa begitu pedih dan menyesakkan terlepas dari senyum yang dihadirkan dua karakter yang berada dalam tatanan gambar tersebut. Duo Aksan Sjuman dan Titi Sjuman juga berhasil kembali memberikan dukungan musik yang mampu menghidupkan nuansa setiap adegan dalam film Sang Penari.

Tatanan naskah cerita dan produksi yang demikian kuat kemudian berhasil mendapatkan perwujudan akting yang begitu sempurna dari para pengisi departemen akting film ini. Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan yang benar-benar mampu tampil hidup untuk kemudian merasuk ke benak setiap penonton Sang Penari. Lihat saja tatapan dan liukan tubuh Prisia ketika karanter Srintil sedang beraksi sebagai seorang ronggeng. Pria mampu melakukannya dengan sempurna! Kemampuan dramatisasi Prisia juga begitu kuat ketika menampilkan karakter Srintil dalam kesehariannya. Penuh kelemahlembutan namun begitu tegar dan sukar untuk dijatuhkan. Begitu pula dengan Oka Antara yang berhasil menghantarkan transformasi kepribadian karakter Rasus dengan baik. Di balik segala keluguan yang diwujudkan Oka untuk karakter Rasus, karakter tersebut sama sekali tidak pernah terlihat lemah maupun palsu. Begitu pula ketika karakter Rasus menjelma menjadi sesosok karakter yang lebih tangguh. Oka Antara berhasil menjadikan transformasi tersebut dengan begitu meyakinkan. Chemistry yang tercipta antara keduanya juga begitu kuat sehingga membuat hubungan cinta antara karakter Srintil dan Rasus begitu memikat sekaligus mampu menyentuh hati dan perasaan setiap orang yang menyaksikan kisah cinta tersebut.

Penampilan apik Prisia Nasution dan Oka Antara juga didukung oleh penampilan kuat para jajaran pemeran pendukung Sang Penari. Para jajaran pemeran pendukung yang diisi dengan nama-nama aktor dan aktris senior seperti Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo hingga Lukman Sardi dan Hendro Djarot mampu mendapatkan pengarahan yang sangat baik dari Ifa Isfansyah yang kemudian berhasil mengeluarkan kemampuan akting terbaik setiap pemeran film ini. Jika terdapat sedikit titik lemah, hal tersebut terdapat pada karakter Bakar yang diperankan oleh Lukman Sardi. Bukan karena Lukman Sardi gagal dalam menghidupkan karakter yang ia perankan. Namun imej seorang Lukman Sardi terkesan terlalu bersih untuk dapat memerankan karakter Bakar yang memiliki agenda tersembunyi dalam setiap kegiatannya. Hasilnya, walau ditampilkan dengan sangat baik, sedikit sulit untuk mempercayai Lukman Sardi dalam peran yang sedikit berbeda dari peran-peran yang perbah ia tampilkan sebelumnya.

Sang Penari bukannya hadir tanpa cela — beberapa bagian cerita kurang mampu tergali lebih dalam dan beberapa karakter pendukung juga kurang mampu untuk ditampilkan secara lebih luas. Walaupun begitu, apa yang dicapai Ifa Isfansyah lewat Sang Penari adalah sebuah pencapaian yang sangat fenomenal. Naskah yang diadaptasi Ifa bersama Salman Aristo dan Shanty Harmayn mampu menangkap seluruh esensi emosional yang terkandung dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ifa juga kemudian didukung oleh tim produksi yang solid. Gambar-gambar yang indah karya Yadi Sugandi menyatu dengan sempurna dengan tata musik arahan Aksan Sjuman dan Titi Sjuman serta diperkuat lagi oleh editing yang dilakukan oleh Cesa David Luckmansyah. Di bagian depan kamera, Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan terbaik yang dapat penonton peroleh dari aktor dan aktris Indonesia sepanjang tahun ini. Untuk mengatakan Sang Penari adalah sebuah karya terbaik tahun ini akan terdengar seperti sebuah perendahan kualitas yang dicapai film ini. Sang Penari adalah salah satu film terbaik yang pernah muncul dalam sejarah panjang industri film Indonesia dan hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan!

   Rating IMDB     :  7.5/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  10 November 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  TVrip (BAGUS)
   Bintang             :  Prisia Nasution & Slamet Rahardjo
   Genre               :  Drama Romance
   Size                  :  425MB MKV  
 
Indowebster-TVrip-425MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


30 Hari Mencari Cinta (2004)

Tiga orang wanita yang bersahabat sejak di SMA: Keke, Gwen dan Olin, ketika kuliah tinggal bersama di rumah milik orangtua Olin. Keke kuliah di jurusan PR, Olin di Bisnis, dan Gwen ambil Desain Grafis. Sepulang kuliah mereka nongkrong di cafe penjual pizza, lalu menyewa VCD dan nonton bersama di rumah. Itulah kegiatan rutin mereka setiap hari.

Suatu hari, seusai menonton VCD romantis, Keke menangis tersedu-sedu karena baru menyadari bahwa mereka hidup tanpa cowok, atau pacar. Ketiganya seperti terbangun dari tidur yang panjang. Mereka sadar bahwa satu-satunya cowok yang dekat dengan mereka adalah Bono, cowok tetangga yang keren, tapi cara berpikirnya seperti orang yang lahir dari planet berbeda.

Keinginan mereka untuk punya cowok semakin bulat, setelah geng musuh yang dipimpin Barbara menyebut mereka lesbian! Akhirnya mereka sepakat akan go public. Mulai Jumat depan, mereka akandugem di club yang paling top dengan target mencari pacar. Menjelang "Jumat Gaul" perdana, mereka sibuk mencari baju, meniru gaya dandan yang lagi trend, belajar gaya disko paling mutakhir dari MTV, yang penting bisa tampil gaya.

Ternyata Jumat itu tidak seperti yang mereka impikan. Gaya disko mereka ternyata bikin rusuh. Keke menumpahkan minuman ke pangkuan seorang cowok. Gwen yang pakai sepatu tinggi, jatuh terjerembab di depan cowok-cowok. Sementara Olin penyakit asmanya kambuh sehingga bikin repot orang banyak. Hasilnya, boro-boro dapat pacar, cowok-cowok pun tak ada yang tertarik pada mereka.

Mereka lalu taruhan, dalam waktu 30 hari harus punya pacar. Niat yang awalnya dijalani secara fun akhirnya berkembang jadi serius. Akhirnya banyak kegiatan yang biasa mereka lakukan bersama, sudah ditinggalkan. Masing-masing sibuk mencari cara tercepat untuk mendapatkan cowok. Dalam urusan mencari cowok ini membuat hubungan mereka jadi renggang. Hidup mereka penuh kepura-puraan. Ada yang pura-pura kencan dengan cowok, padahal cuma nonton sendirian di bioskop. Semua itu membuat mereka semakin jauh dan kesepian.

Di minggu ketiga mereka sudah mendapatkan cowok yang kira-kira cocok, tapi bukan berarti tanpa masalah. Olin kesengsem berat pada Erik yang tampangnya mirip bintang F4, Jerry Yan, tapi pemuda pemalu yang lemah lembut ini belum juga menyatakan cintanya. Sementara Keke dibuat pusing dengan ulah Brian yang selalu terobsesi pada urusan seks. Gwen menjalin hubungan dengan Axel, anggota band metal, yang peminum alkohol dan bau badan karena jarang mandi.

Ternyata punya cowok sama buruknya dengan tidak punya. Ketiganya sedih dan saling merindukan saru sama lain. Tepat di hari ke-30 ketiganya saling jujur dan terbuka mengungkap apa yang sebenarnya terjadi selama ini...

   Rating IMDB     :  5.8/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  9 January 2004 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Vino G. Bastian and Luna Maya
   Genre               :  Comedy | Drama | Romance
   Size                  :  500MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-500MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------



What Love Means (2005) / Apa artinya cinta? (2005)

Dari tim produksi dan pemain utama 'Eiffel I'm In Love' (2003) hadirlah 'Apa Artinya Cinta?' (AAC?) sebagai follow-up blockbuster hit film di akhir tahun 2003 tersebut. Jelas sekali jika film ini diniatkan untuk kembali menjadi hit dalam perfilman Indonesia saat itu. Dengan bujet yang jauh lebih besar, maka 'AAC?' memang tampil dengan lebih menarik. Akan tetapi, apakah kemudian 'AAC?' menjadi lebih baik dari pendahulunya?

Adegan di buka dengan dengan setting sebuah kamar apartemen di Amerika, dimana seorang pria (Samuel Rizal) yang menyatakan rasa cintanya terhadap seseorang yang tidak terlihat di layar. Kemudian, si sosok misterius menunjukkan dirinya dan memeluk sang pria tersebut. Yang mengundang penasaran adalah, sosok tersebut juga ternyata seorang pria! Cerita berpindah ke Indonesia, dimana Aliza (Shandy Aulia), seorang gadis yang baru berusia 17 tahun yang ingin melanjutkan studinya ke Amerika. Atas rekomendasi mamanya, maka Aliza bertemu dengan Dara, anak tetangga baru mereka yang baru pulang untuk liburan. Ternyata Dara kuliah di San Fransisco, Amerika. Dari pertemuan pertama mereka, Aliza mendapatkan kesan yang aneh terhadap Dara, karena ia menganggap Dara sebagai anak dengan kelakuan yang 'aneh'. Apalagi saat kakaknya, Rio (Mischa Chandrawinata), memberitahu Aliza tentang gosip miring tentang 'prilaku' Dara. Namun, entah mengapa, ada sesuatu di diri Dara yang mengundang rasa ingin tahu yang besar dari Aliza. Maka dimulailah usaha Eliza untuk mengetahui siapa sebenarnya Dara itu.

Tidak ada yang spesial dengan plot yang ditawarkan oleh 'AAC?', bahkan cenderung tipikal komedi romantis sekali. Namun, kelucuan-kelucuan yang dibangun oleh situasinya cukup menggelitik, terutama karena adanya prasangka yang telah terbentuk di benak Aliza terhadap Dara. Tentu saja, banyak logika cerita yang perlu ditanyakan, namun ini adalah film hiburan dan ditujukan untuk menghibur penonton tanpa harus berpikir secara berlebihan. Mungkin ini adalah apologi untuk kelemahan cerita 'AAC?'. Selain itu 'AAC?' juga menyediakan sub-plot yang sebenarnya cukup bagus jika dikembangkan dalam sebuah narasi tersendiri, namun sayangnya sub-plot tersebut tidak diperlukan untuk film ini, karena sama sekali tidak ada korelasi dengan struktur cerita yang ingin dibangun.

Film ini disutradarai, diproduseri dan ditulis oleh Sunil Soraya, setelah sebelumnya ia hanya menjabat sebagai produser untuk Eiffel I'm In Love (2003). Sebagai seorang sutradara, tampaknya ia mempunyai visi sinematik dengan nilai artistik yang tinggi, karena secara visual, film ini terasa indah dengan set otherwordly-nya. Memang, dengan set yang terlalu mewah, film ini terkesan sangat tidak realistik. Selain itu, demi mengejar nilai artistik yang tinggi tersebut, Sunil kadang terjebak dalam elaborasi visual yang tidak perlu sama sekali, sehingga cukup mengganggu kenikmatan menonton film. Selain itu, ia tampaknya sangat terobsesi dengan film 'Sin City' (2005), karena selain poster yang menggunakan konsep yang sama, ternyata ada sebuah segmen yang benar-benar memakai konsep filmnya Robert Rodriguez tersebut. Ohya, bahkan untuk segmen company credit dari Soraya Intercine dibuat mirip dengan company credit-nya Marvel. Mungkin maksudnya untuk mengingatkan penonton bahwa ini adalah film dengan gaya dan adegan-adegan yang komikal. Tampaknya taste Sunil Soraya adalah action, karena ia kelihatannya berbakat dalam adegan-adegan aksi. Terutama adegan kebut-kebutan di jalanan San Fransisco, yang tidak kalah menarik dari film H'wood sekalipun.  Mungkin untuk feature selanjutnya ia bisa mengeksplorasi genre tersebut saja.

Tata fotografi film ini juga lumayan menarik, apalagi film ini juga film Indonesia pertama yang memakai Panavision sebagai kameranya dan dengan teknik widescreen (sesuatu yang kini jarang digunakan oleh film Indonesia), sehingga 'AAC?' tampil dengan gambar-gambar yang memanjakan mata. Pemakaian CGI masih jelas terlihat, terutama untuk adegan kebut-kebutan di jalanan San Fransisco, akan tetapi sudah cukup lumayan bagus. Untuk urusan efek khusus, 'AAC?' kelihatannya memang tidak main-main, karena memang banyak menampilkan efek sebagai hiasan visualnya. Sayangnya, untuk hal-hal tersebut, Sunil Soraya belum berani memakai tenaga lokal, karena masih memakai tenaga asing, yang memang terlihat sangat menguasai bidangnya.

Dari segi akting, tidak ada pengembangan yang berarti dari duet Samuel Rizal dan Shandy Aulia. Walau begitu, chemistry mereka yang telah terbangun cukup memberikan kontribusi positif untuk film ini. Samuel masih terlihat kurang natural sementara Shandy belum bisa melepaskan streotype aktingnya. Akan lebih baik jika mereka nanti memilih peran yang lebih menantang. Selain itu, film ini juga menampilkan comebacknya Onky Alexander, yang dulu merupakan iconnya anak muda tahun 80-an melalui seri 'Catatan Si Boy'-nya. Dan dalam film ini Onky kembali berduet dengan Didi Petet, yang tampil sangat menghibur, terutama saat adegan kebut-kebutan tersebut.

Jadi, apakah 'AAC?' lebih baik dari 'Eiffel I'm In Love'? Tampaknya begitu, walau secara kualitas, tidak ada peningkatan yang signifikan. Tapi, setidaknya film ini membuktikan, jika sebuah film dibuat dengan serius, maka film tersebut akan menjadi sebuah film yang menarik. 

   Rating IMDB     :  5.1/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  2 November 2005 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Shandy Aulia, Samuel Rizal
   Genre               :  Comedy | Romance
   Size                  :  600MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-600MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kumpulan Film Bioskop - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger