Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label T. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label T. Tampilkan semua postingan

Test Pack (2012)

Diangkat dari novel berjudul sama karya Ninit Yunita yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, Test Pack: You Are My Baby berkisah mengenai pasangan menikah, Rachmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa), yang sedang berupaya untuk melengkapi susunan keluarga mereka dengan memperoleh seorang anak. Sebenarnya, kehadiran seorang anak dalam pernikahan Rachmat dan Tata bukanlah sebuah hal yang dirasa penting. Namun, setelah usia pernikahan yang telah mencapai tujuh tahun, Tata akhirnya merasa bahwa kehadiran seorang anak adalah sebuah hal yang wajib. Akibatnya, kini keseharian hidup pasangan itu dihiasi dengan berbagai eksperimen yang dinilai dapat membantu mereka untuk mendapatkan seorang penerus garis keturunan. Sayangnya… usaha tersebut sepertinya tidak kunjung berhasil.

Setelah beberapa saat, Rachmat dan Tata memutuskan bahwa kini adalah saat yang tepat bagi mereka untuk mendapatkan opini dari seorang ahli medis. Beberapa kali kunjungan konsultasi ke ahli kandungan ternyata memberikan tekanan mental yang begitu kuat kepada Rachmat. Ia menjadi merasa ketakutan bahwa dirinya adalah faktor yang membuat pernikahan mereka tidak kunjung dikaruniai seorang anak hingga kini. Ketakutan tersebut kemudian mendorong Rachmat secara perlahan menjauh dari Tata… dan berhubungan kembali dengan mantan kekasihnya, Shinta (Renata Kusmanto) – yang ternyata baru saja diceraikan suaminya, Heru (Dwi Sasono), akibat tidak mampu memberikan keturunan. Niat yang awalnya untuk memperoleh sebuah berkah justru kemudian berbalik menjadi ujian terbesar dalam pernikahan Rachmat dan Tata.

Dengan tema penceritaannya yang jauh lebih dewasa, Test Pack: You Are My Baby jelas akan mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi para penggemar drama romansa Indonesia yang menganggap Perahu Kertas sedikit bernuansa terlalu remaja bagi mereka. Dengan naskah yang diadaptasi oleh Adhitya Mulya, Test Pack: You Are My Baby mampu menghadirkan rangkaian drama yang dengan fasih menangkap bagaimana setiap usaha dari kedua karakter utamanya dalam memperoleh keturunan. Berbeda dengan kebanyakan drama romansa lainnya, sama sekali tidak ada yang dihadirkan secara berlebihan dalam film ini. Setiap bagian drama dihadirkan secara natural – tanpa pernah terlihat berusaha keras untuk mencoba membuat penontonnya merasa tersentuh akan kisah yang disajikan – dengan deretan karakter yang juga begitu membumi dan mudah untuk untuk disukai.

Tantangan terbesar bagi Monty Tiwa jelas adalah bagaimana untuk mendeskripsikan Test Pack: You Are My Baby yang hanya berisi dua konflik besar tersebut menjadi sebuah jalan penceritaan berdurasi 109 menit tanpa pernah terasa membosankan. Well… pada beberapa bagian, usaha tersebut berhasil. Dengan memasukkan unsur komedi yang datang dari karakter-karakter seperti dr Peni S. – seriously! – atau pasangan Bapak dan Ibu Sutoyo, penonton diberikan penyegaran yang cukup layak untuk kemudian dapat kembali ke akar permasalahan film ini yang sebenarnya. Namun, Test Pack: You Are My Baby juga tidak lepas dari momen-momen dimana konflik usaha mendapatkan keturunan yang dialami oleh pasangan karakter Rachmat dan Tata telah terasa terlalu panjang atau kisah hubungan antara karakter Rachmat dan Shinta yang gagal untuk tampil lebih mendalam dan justru seringkali terlihat klise.

Karakter-karakter dalam jalan cerita Test Pack: You Are My Baby dihadirkan secara begitu sederhana dan tidak pernah tampil begitu overly-dramatic. Selain dari keberhasilan Adhitya Mulya dalam menggambarkan deretan karakter tersebut, mudahnya penonton untuk merasa terkoneksi pada jalan cerita film ini juga muncul akibat briliannya penampilan para pengisi departemen akting yang menghidupkan karakter-karakter tersebut. Reza Rahadian… well… salah satu aktor terbaik di generasinya dan berhasil kembali membuktikan gelar tersebut dalam perannya sebagai Rachmat di film ini. Acha Septriasa juga berhasil menampilkan kedewasaan penampilannya, baik secara akting maupun… ehmmm… penampilannya. Chemistry yang tercipta antara Reza dan Acha juga tampil begitu kuat dan meyakinkan. Monty Tiwa juga berhasil mengeluarkan sisi terbaik dari penampilan Renata Kusmanto – yang memang seringkali terlihat datar dalam kebanyakan penampilannya, namun berhasil tampil kuat di film ini. Dukungan penampilan akting lainnya dari Meriam Bellina, Jaja Mihardja, Oon, Gading Marten, Uli Herdinansyah serta Dwi Sasono mampu mempertegas kualitas departemen akting di film ini.

Selain deretan lagu latar yang terasa begitu mengganggu – please, Monty. Make it stop! – karena dinyanyikan oleh deretan penyanyi dengan kualitas vokal yang medioker serta beberapa bagian penceritaan yang terasa dieksplorasi terlalu panjang maupun tidak berhasil digali dengan lebih mendalam, Test Pack: You Are My Baby adalah sebuah drama romansa yang berhasil tampil kuat. Naskah cerita dan deretan karakter yang sederhana mampu dieksekusi Monty Tiwa menjadi sebuah drama kehidupan yang berhasil hadir dengan meyakinkan. Didukung dengan deretan penampilan akting berkelas dari Reza Rahadian, Acha Septriasa dan Renata Kusmanto, Test Pack: You Are My Baby adalah sebuah drama romansa dewasa yang telah lama dirindukan hadir di industri film Indonesia.

   Rating IMDB     :  7.4/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  6 September 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Reza Rahadian, Acha Septriasa
   Genre               :  Comedy | Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tarung: City of the Darkness (2011)

Opini-opini rasa penasaran untuk menonton film ini dari berbagai movie blogger terlintas keluar ketika melihat trailer film yang awalnya berjudul Serangan Maut ini. Dan entah kenapa tiba-tiba masuk LSF dengan judul City Of Darkness atau Tarung. Rasa penasaran yang terlontar dari mereka pun dirasakan gue secara pribadi, rasanya tidak salah dan lebai jika terjadi semua seperti ini. Karena “kick ass” alias sutradara film ini pun sebenarnya lebih terkenal dengan film-film horror yang belum memiliki tujuan arah yang jelas. Lalu bagaimanakah hasil secara keseluruhan film ini sesungguhnya? Simak review curhatan josep berikut ini tentang film Tarung (City Of The Darkness).

Semua berawal dari kisah persahabatan empat anak panti asuhan Bunda Mulia milik Ibu Lastri yang diantaranya Reno, Choky, Daud, dan Galang. Persahabatan mereka bisa dibilang cukup kuat sampai usia mereka dewasa. Bahkan sampai salah satu teman mereka, Reno, yang keluar dari penjara pun karena masalah pembunuhan, mereka tetap solid seperti sedia kala. Setelah Reno keluar pun ternyata bos preman dari anak buah yang pernah dibunuh Reno, balas dendam terhadap dirinya. Galang dan Daud sebagai teman Reno yang begitu emosional tidak mau menerima semua ini begitu saja. Tidak jauh berbeda pula dengan Choky, yang terlilit hutang oleh bandar narkoba dan kini pun harus menanggung resiko dikejar-kejar segerombolan misterius. Persahabatan mereka pun kali ini diuji dengan motto mereka “Satu terluka, semua terluka”.

SAMA SAJA & SEDIKIT BERTOBAT! Yak kata-kata itu yang terlintas di pikiran gue setelah menyaksikan film Nayato Fio Naula kali ini yang mulai bergeser ke arah action. Kenapa sama saja? Yak konsep cerita, mau dibawa kemana film ini, dan terutama yang paling penting lokasi tempat yang tidak jauh berbeda sama sekali! Malah disini totalitas parahnya Nayato terlihat sangat jelas. Gue mengagumi sosok beliau bisa dibilang karena pengambilan gambar yang indah, stabil dan enak dipandang ketika ditonton. Namun kali ini gue dikecewakan beliau karena hampir 5 x gue hitung ketidakstabilan pengambilan gambar dan gambar yang dihasilkan kebanyakan blur alias tidak jelas!

Kenorakan lainnya Nayato di film ini antara lain banyaknya pengambilan gambar kereta api yang terlintas. Memang sih kereta api sudah langganan Nayato, tapi apakah wajar jika pengambilan gambar kereta api sampai 15-16 kali sepanjang 85 menit? Gue rasa ini terlalu berlebihan, akan tetapi kalau ini `da hubungannya dengan Hantu Lintasan Kereta Api yang konon kabarnya dia akan buat ya tidak masalah juga sih *gosip*. Belum lagi editing dan cara pengambilan gambar aksi dari apra pemain terlihat begitu aksar dan cepat sekali, sehingga tidak terasa “feel” bertarung disini. Mungkin dalam benak Nayato kata “tarung” itu yang penting pukul-pukulan dengan alat dan bisa menumpahkan banyak darah dimana-mana yang sampai membuat gue bingung sampai segitunyakah bertarung sebagai seorang lelaki?

Pengambilan gambar yang tidak fokus, ketidakindahannya gambar yang dihasilkan, aksi tarungnya yang terlihat kurang greget, nah sekarang masalahnya di bagian musik. Opening musik lebai mengingatkan gue seperti film-film horror Nayato lainnya, gue nyaris sakit kuping mendengarnya padahal genre film ini action tapi seperti thriller dan horror. Di beberapa bagian film ini untungnya scoring cukup terlihat drama sekali. Sumpah gue kaget banget kalau ternyata Nayato bisa menampilkan drama yang cukup menyentuh dan sedikit religi di filmnya seperti ini! Tapi kembali lagi ke bagian editingnya, karena menempatkan perpindahan gambar seperti tidak dipikirkan dengan baik. Contohnya, ketika ada adegan yang cukup bermoral dan sopan, eh tiba-tiba adegan berikutnya menampilkan adegan bikini di kolam renang! WTF with you Nayato?!

Para pemain disini bisa dibilang “reuni keluarga anak kesayangan Nayato”. Bisa dibilang Cuma Zacky Zimah dan Azis Gagap yang absen disini, sisanya para pemain cowo yang pernah nongol sebagai pemeran utama ataupun pendukung di film-filmnya Nayato dahulu. Sebut saja, Guntur Tri Yoga, Khrisna Patra, Daud Radex, Raymond Knulich, Fikry Baladraf, Gouw Hartono dan terakhir Volland. Untuk pemain wanitanya bisa dibilang Cinta Dewi yang cukup beruntung bisa dipilih Nayato di filmnya kali ini bersama “pemain cowo kesayangan Nayato” yang memiliki fisik dan tampang yang cukup baik. Namun disini gue cukup ilfill melihat penampilan Cinta Dewi. Jika dibandingkan penampilannya di Pelet Kuntilanak beberapa bulan lalu, gue lebih sreg melihat dirinya disana, terutama bagian paling sensitif sekalipun yaitu ketiak. Oalah apa krena Cinta saking excited mendapatkan peran bersama-sama para pria maka dirinya sampai lupa membersihkannya?

Satu lagi yang cukup parah dari film ini adalah bagaimana kekuatan dari para pemain yang begitu kuat dari tembakan peluru ke perut namun bisa tetap bertarung, walaupun terkena luka baret di muka namun besoknya pulih dengan cepat tanpa bantuan dokter sama sekali. Dan terakhir, luka yang dialami para pemain pun bisa berpindah seenak jidat bagian make-up artistiknya! Kayaknya gue tidak usah memberikan kesimpulan secara jelas lagi terhadap film ini. Beberapa curhatan gue diatas sepertinya sudah memberikan gambaran apakah sesungguhnya yang terjadi di film TARUNG. Akhir kata silahkan berTarung sendiri di bioskop kesayangan anda!

   Rating IMDB     :  4.5/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  15 September 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  BlurayRip (BAGUS)
   Bintang             :  Guntur Triyoga, Volland Humonggio
   Genre               :  Action
   Size                  :  800MB MKV  
 
Indowebster-BlurayRip-800MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


The Dancer (2011) / Sang Penari (2011)

Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.

Srintil (Prisia Nasution) adalah seorang gadis yang semenjak lama mendambakan bahwa dirinya akan terpilih sebagai seorang ronggeng. Tidak hanya sebagai wujud terima kasihnya pada sang leluhur, Ki Secamanggala, karena telah memberikan kehidupan maksmur pada warga Dukuh Paruk, namun juga sebagai pengobat bagi rusaknya nama baik orangtuanya yang secara tidak sengaja pernah membunuh banyak warga Dukuh Paruk lewat tempe bongkrek buatan mereka. Dengan bantuan Rasus (Oka Antara), pria yang telah menjadi sahabat Srintil semenjak kecil dan kini memendam perasaan cinta yang mendalam kepadanya, Srintil berhasil terpilih sebagai seorang ronggeng. Dan layaknya seorang ronggeng, Srintil memulai masa tugasnya untuk ‘melayani’ masyarakat. Rasus yang tidak rela berbagi cinta dan kasih Srintil memilih untuk menyingkir dari Dukuh Paruk. Namun, sebuah elegi zaman – dan tragedi pahit – akan kembali mempertemukan mereka dan memberikan kisah akhir pada perjalanan cinta antara keduanya.

Ada banyak hal yang coba disarikan Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Namun, konflik cinta segitiga antara karakter Srintil, Rasus serta kecintaan dan pengorbanan Srintil pada dunia ronggeng jelas merupakan sebuah fokus sekaligus kekuatan utama mengapa Sang Penari dapat tampil begitu memikat di setiap perjalanan kisahnya. Layaknya kisah-kisah cinta klasik yang mampu menyentuh setiap penontonnya, Salman, Ifa dan Shanty mampu membangun karakterisasi yang kuat bagi karakter Srintil dan Rasus. Keduanya tampil dengan rasa cinta yang kuat antara satu dengan yang lain. Namun, rasa cinta tersebut kemudian tertutupi dengan ego mereka atas kecintaan mereka terhadap sisi kehidupan lain mereka. Pertentangan inilah yang membuat kisah cinta antara Srintil dan Rasus tidak pernah mampu menyatu dengan baik dan Ifa Isfansyah berhasil membangunnya dengan sangat cermat sehingga mampu membentuk sisi emosional yang kuat dari penonton.

Tak hanya menyuguhi kisah cinta, Sang Penari juga mampu memberikan deretan kisah pendukung yang kuat kepada para penontonnya. Mulai dari bagaimana cara pandang tradisional mengenai kehidupan para ronggeng, merasuknya kehidupan (serta cara pandang) modern secara perlahan kepada kehidupan warga desa Dukuh Paruk, sebuah twist atas tragedi kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia yang kemudian secara cerdas dijadikan benang merah kepada kehidupan para masyarakat Dukuh Paruk. Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memang adalah salah satu karya sastra penting dalam catatan literatur Indonesia yang mampu mengolah begitu banyak faham, ideologi dan pemikiran di balik kisah cinta yang menjadi menu utamanya. Tidak mengherankan memang, jika ketika berada di tangan yang tepat, Ronggeng Dukuh Paruk mampu diterjemahkan menjadi sebuah film yang benar-benar mampu tampil kuat. Dan Sang Penari, tanpa diragukan lagi, adalah wujud dari terjemahan kuat tersebut.

Selain mendapat sokongan jalan cerita yang cerdas dan kuat, tata produksi Sang Penari merupakan tata produksi kelas atas yang sangat jarang untuk ditemui di film-film Indonesia belakangan ini. Pemerhatian terhadap detil yang mendukung kekuatan cerita di film ini tampil begitu kuat. Mulai dari tata busana, tata rias hingga dekorasi tata visual yang menjadi latar belakang cerita dihadirkan dengan begitu jeli dan seksama. Tata sinematografi yang diberikan Yadi Sugandi dalam Sang Penari juga benar-benar menghipnotis! Tidak hanya indah, namun mampu berbicara secara emosional. Lihat adegan akhir film ini dimana Yadi menyediakan sebuah gambar dengan lanskap luas atas kepergian karakter Srintil dan Sakum. Sebuah pilihan gambar yang membuat ending film ini terasa begitu pedih dan menyesakkan terlepas dari senyum yang dihadirkan dua karakter yang berada dalam tatanan gambar tersebut. Duo Aksan Sjuman dan Titi Sjuman juga berhasil kembali memberikan dukungan musik yang mampu menghidupkan nuansa setiap adegan dalam film Sang Penari.

Tatanan naskah cerita dan produksi yang demikian kuat kemudian berhasil mendapatkan perwujudan akting yang begitu sempurna dari para pengisi departemen akting film ini. Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan yang benar-benar mampu tampil hidup untuk kemudian merasuk ke benak setiap penonton Sang Penari. Lihat saja tatapan dan liukan tubuh Prisia ketika karanter Srintil sedang beraksi sebagai seorang ronggeng. Pria mampu melakukannya dengan sempurna! Kemampuan dramatisasi Prisia juga begitu kuat ketika menampilkan karakter Srintil dalam kesehariannya. Penuh kelemahlembutan namun begitu tegar dan sukar untuk dijatuhkan. Begitu pula dengan Oka Antara yang berhasil menghantarkan transformasi kepribadian karakter Rasus dengan baik. Di balik segala keluguan yang diwujudkan Oka untuk karakter Rasus, karakter tersebut sama sekali tidak pernah terlihat lemah maupun palsu. Begitu pula ketika karakter Rasus menjelma menjadi sesosok karakter yang lebih tangguh. Oka Antara berhasil menjadikan transformasi tersebut dengan begitu meyakinkan. Chemistry yang tercipta antara keduanya juga begitu kuat sehingga membuat hubungan cinta antara karakter Srintil dan Rasus begitu memikat sekaligus mampu menyentuh hati dan perasaan setiap orang yang menyaksikan kisah cinta tersebut.

Penampilan apik Prisia Nasution dan Oka Antara juga didukung oleh penampilan kuat para jajaran pemeran pendukung Sang Penari. Para jajaran pemeran pendukung yang diisi dengan nama-nama aktor dan aktris senior seperti Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo hingga Lukman Sardi dan Hendro Djarot mampu mendapatkan pengarahan yang sangat baik dari Ifa Isfansyah yang kemudian berhasil mengeluarkan kemampuan akting terbaik setiap pemeran film ini. Jika terdapat sedikit titik lemah, hal tersebut terdapat pada karakter Bakar yang diperankan oleh Lukman Sardi. Bukan karena Lukman Sardi gagal dalam menghidupkan karakter yang ia perankan. Namun imej seorang Lukman Sardi terkesan terlalu bersih untuk dapat memerankan karakter Bakar yang memiliki agenda tersembunyi dalam setiap kegiatannya. Hasilnya, walau ditampilkan dengan sangat baik, sedikit sulit untuk mempercayai Lukman Sardi dalam peran yang sedikit berbeda dari peran-peran yang perbah ia tampilkan sebelumnya.

Sang Penari bukannya hadir tanpa cela — beberapa bagian cerita kurang mampu tergali lebih dalam dan beberapa karakter pendukung juga kurang mampu untuk ditampilkan secara lebih luas. Walaupun begitu, apa yang dicapai Ifa Isfansyah lewat Sang Penari adalah sebuah pencapaian yang sangat fenomenal. Naskah yang diadaptasi Ifa bersama Salman Aristo dan Shanty Harmayn mampu menangkap seluruh esensi emosional yang terkandung dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ifa juga kemudian didukung oleh tim produksi yang solid. Gambar-gambar yang indah karya Yadi Sugandi menyatu dengan sempurna dengan tata musik arahan Aksan Sjuman dan Titi Sjuman serta diperkuat lagi oleh editing yang dilakukan oleh Cesa David Luckmansyah. Di bagian depan kamera, Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan terbaik yang dapat penonton peroleh dari aktor dan aktris Indonesia sepanjang tahun ini. Untuk mengatakan Sang Penari adalah sebuah karya terbaik tahun ini akan terdengar seperti sebuah perendahan kualitas yang dicapai film ini. Sang Penari adalah salah satu film terbaik yang pernah muncul dalam sejarah panjang industri film Indonesia dan hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan!

   Rating IMDB     :  7.5/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  10 November 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  TVrip (BAGUS)
   Bintang             :  Prisia Nasution & Slamet Rahardjo
   Genre               :  Drama Romance
   Size                  :  425MB MKV  
 
Indowebster-TVrip-425MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tanah Surga… Katanya (2012)

Deddy Mizwar sepertinya belum puas untuk bermain di sekitar wilayah drama satir. Setelah film-film semacam Kentut (2011) dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), Deddy kembali hadir sebagai produser – sekaligus hadir sebagai pemeran dalam kapasitas terbatas – untuk film terbaru arahan Herwin Novianto (Jagad X Code, 2009) yang berjudul Tanah Surga… Katanya. Dengan naskah cerita yang dittlis oleh Danial Rifki, Tanah Surga… Katanya mencoba untuk membahas struktur kehidupan masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara Indonesia – Malaysia, khususnya dari segi ekonomi. Sebuah sentuhan kritis yang jelas terasa begitu sensitif, namun Tanah Surga… Katanya mampu menyajikannya dengan penceritaan yang elegan.

Tanah Surga… Katanya berkisah mengenai dilema kehidupan yang dialami oleh Hasyim (Fuad Idris) ketika ia diajak oleh anaknya, Haris (Ence Bagus), untuk meninggalkan desanya yang berada di daerah pinggiran perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat dan berpindah ke Malaysia. Pilihan ini sendiri diberikan oleh Haris karena selama ini ia telah mendapatkan rezeki yang melimpah dengan bekerja di Malaysia sekaligus mengingat fakta bahwa kehidupan masyarakat di daerah pinggiran tersebut sama sekali tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah Republik Indonesia. Sebagai seorang mantan pejuang kemerdekaan yang masih menggenggam nilai-nilai nasionalisme yang tinggi, Hasyim jelas menolak ajakan tersebut. Akhirnya, Haris hanya mengajak puterinya, Salina (Tissa Biani Azzahra), untuk berangkat ke Malaysia dan meninggalkan ayah beserta puteranya, Salman (Osa Aji Santoso), yang tidak ingin meninggalkan sang kakek sendirian.

Dilema kehidupan di daerah perbatasan Indonesia – Malaysia tidak semata-mata hanya dialami oleh Hasyim dan keluarganya. Tanah Surga… Katanya juga menyinggung mengenai masalah pendidikan melalui karakter guru muda bernama Astuti (Astri Nurdin) yang harus berjuang mengajar sendirian di desa tersebut karena keterbatasan tenaga guru yang mengajar disana. Ada juga karakter Anwar (Ringgo Agus Rahman), seorang dokter yang berasal dari Bandung yang baru saja tiba disana setelah ditugaskan dari kota asalnya di Bandung. Melalui kehidupan yang dijalani oleh karakter-karakter tersebut di sepanjang penceritaan film inilah Tanah Surga… Katanya berusaha menunjukkan bahwa tanah air Indonesia tidak seindah dan semakmur bayangan masyarakatnya selama ini, khususnya ketika pemerintah sama sekali bersikap acuh kepada nasib keseharian para warganya.

Satir yang disajikan oleh Tanah Surga… Katanya memang secara berani mengkonfrontir berbagai isu yang dihadapi oleh Indonesia selama ini dengan Malaysia. Memang, jalan cerita film ini bukanlah berniat untuk menanamkan semangat kebencian terhadap negara tetangganya tersebut. Tanah Surga… Katanya memilih untuk membandingkan secara langsung bagaimana kesejahteraan kehidupan yang saling bertolak belakang antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Malaysia yang hidup di garis perbatasan, dan bagaimana masyarakat Indonesia mengais-ngais rezeki di wilayah negara tetangganya akibat kurangnya kepedulian pemerintah yang berujung pada hilangnya pula rasa kecintaan dan nasionalisme masuarakat di daerah tersebut terhadap negeri kelahiran mereka sendiri. Kritis. Tajam. Namun pada kebanyakan bagian, Tanah Surga… Katanya justru terkesan menyalahkan kesejahteraan negeri tetangga yang begitu memikat daripada mengeksplorasi masalah yang dihadapi karakter masyarakat di wilayah Indonesia dan usaha mereka untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Satir dan sindiran mengenai sikap nasionalisme di dalam jalan cerita Tanah Surga… Katanya sendiri mampu dihadirkan secara elegan, melalui berbagai dialog maupun adegan sindiran yang cukup berhasil untuk menghantarkan pesannya – walau pada beberapa bagian terkesan dieksekusi secara terlalu berlebihan. Pun begitu, kematangan kemampuan penampilan akting para jajaran pengisi departemen akting Tanah Surga… Katanya berhasil membuat berbagai sisi kehidupan yang ingin disampaikan film ini menjadi dapat tersampaikan dengan lugas. Pujian khusus tentu layak disematkan kepada pemeran Salman, Osa Oji Santoso, yang mampu memberikan penampilan akting yang apik sekaligus menjaga ritme emosional cerita di setiap penampilannya. Nama-nama lain seperti Ence Bagus, Fuad Idris, Ringgo Agus Rahman – yang sepertinya semakin baik dalam memilih peran-peran yang ia mainkan, Astri Nurdin dan Norman Akyuwen semakin menambah kokoh kekuatan pondasi akting film ini.

Herwin Novianto sendiri harus diberikan pujian atas kemampuannya untuk mengarahkan film ini, baik dari sisi penjagaan alur ritme penceritaan film maupun pengarahan dari tata produksi film ini. Jelas tidak mudah untuk mengarahkan sebuah drama satir agar tetap mampu dinikmati oleh khalayak ramai. Namun, Herwin berhasil mengeksekusi naskah cerita arahan Danial Rifki dengan cukup baik. Kekuatan penceritaan tersebut juga didukung dengan kualitas penampilan audio dan visual yang begitu berkelas. Sinematografi arahan Anggi Frisca mampu menangkap alam Kalimantan dengan penuh kesan eksotismenya, sementara tata musik karya Thoersi Argeswara juga mampu mengisi setiap adegan dengan tambahan emosi yang lebih kuat.

Harus diakui, jika dibandingkan dengan film-film Indonesia lain yang bertema serupa seperti Batas (2011) atau Tanah Air Beta (2010), Tanah Surga… Katanya memiliki nilai kritikan yang jauh lebih tajam. Sayangnya, seiring dengan berjalannya durasi film, Tanah Surga… Katanya menjadi kehilangan fokus, berlarut dalam drama yang kurang mampu tergarap dengan baik dan semakin bertele-tele dalam penyampaian ceritanya. Pun begitu, dukungan keapikan penampilan akting para jajaran pemerannya serta kualitas tata produksi film ini setidaknya tetap mampu membuat Tanah Surga… Katanya menjadi sebuah sajian yang berkualitas untuk disimak. Tidak istimewa, namun jelas sebuah hasil produksi dengan kualitas yang cukup memuaskan.
   Rating IMDB     :  0.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  15 Agustus 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Osa Aji Santoso, Fuad Idris
   Genre               :  Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tarung (2011)

Jika mendengar Nayato membuat film horor, sepertinya saya tidak lagi harus kaget atau dia membuat film drama, itu juga sudah “keahliannya”. Responnya sih sama saja seperti kalau setiap pagi, tiba-tiba saya mules-mules pengen kebelakang, itu sudah biasa. Gimana kalau tiba-tiba Nayato membuat film action? sambil balik badan lalu ngesot saya pastinya menjawab “tidak mungkin”. Namun saya lupa satu hal, jika tidak ada yang tak mungkin bagi seorang dengan nama lengkap Nayato Fio Nuala, kalau dia bisa membuat kuntilanak kesurupan pocong kemudian lompat-lompat, masa sih bikin film berantem-beranteman saja tidak bisa, iya nga? “bodo ah”. Kalau tidak salah, saya tuh pertama kali mendengar tentang “Tarung” justru dari website film berbahasa Inggris, di artikel berita tersebut “Tarung” waktu itu masih berjudul “Fight: City of Darkness” dengan poster film yang didalamnya terdapat wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi. Tebakan saya langsung menuju ke satu nama “pasti ini buatan Nayato”, tapi disana tidak ada nama orang yang punya nama lain Koya Pagayo ini (jika membuat film horor), melainkan nama yang tidak familiar, ditambah namanya berbahasa Mandarin pula.

Kalau tidak salah lagi (maklum sudah agak pikun akibat kebanyakan nonton film-film om Nayato), waktu itu juga “Fight” ini sempat bikin penasaran orang-orang, sempat juga ada “dibahas” seupil di twitter, ini film siapa? –tapi saat melihat cuplikan trailernya, saya semakin yakin ini film Nayato, dilihat dari gaya trailer yang memang sangat “Nayato banget”. Ternyata tebakan saya tidak meleset, jelang tanggal rilisnya di bulan September 2011, “Fight” memperlihatkan jati diri yang sebenarnya, di posternya terpampang jelas nama Nayato Fio Nuala, selain itu judulnya pun berubah menjadi “Tarung (City of Darkness)”. Sebuah judul yang sangat pas untuk sutradara paling produktif di negeri ini, ada kata-kata “Darkness”, yang mana cocok dengan gaya khas Nayato di film-filmnya, yaitu remang-remang gimana gitu. Entah ini tidak disengaja atau memang sengaja untuk mengolok-olok dirinya sendiri, hanya dia dan pocong yang tahu.

“Tarung” boleh saja punya genre yang beda dari film Nayato kebanyakan, action dibalut aksi martial-art tapi tetap saja film yang katanya baru rampung dalam waktu setahun ini, masih sangat lekat dengan ciri khas Nayato. Untuk soal cerita yang lagi-lagi ditulis oleh Ery Sofid (Film Pocong A-Z) dan kali ini juga dibantu Ian Janpanay (Virgin 2), “Tarung” memang tidak menawarkan sesuatu yang baru. Unsur-unsur yang nantinya ada di dalam cerita pun sudah pernah tersaji di ratusan film yang pernah Nayato buat, sebut saja anak muda yang orang tuanya nga jelas, bandar narkoba yang tidak pernah diperlihatkan dia jual narkoba atau pulsa, persahabatan tanpa chemistry, kisah cinta yang dipaksa romantis tapi malah terlihat bodoh, untung tidak ada lagi dialog macam “Kalo tetek aku kempes, pantat aku penyok, kamu masih cinta aku?”.

Reno, Choky, Daud, dan Galang sudah diceritakan bersahabat sejak kecil, ketika mereka dipertemukan di sebuah panti asuhan Bunda Mulia pimpinan Ibu Lastri. Tapi jangan deh harap kita akan diperlihatkan adegan manis bagaimana kisah persahabatan tersebut bisa terjalin penuh drama, Nayato lebih memilih untuk memotong kisah masa kecil dan fokus ke masa suram anak-anak ini setelah dewasa. Reno baru saja keluar dari penjara, Choky kerjanya maling DVD (bajakan pula), begonya bukannya ditonton tuh DVD dibuang lagi. Daud satu-satunya yang paling bener, punya usaha yang bisa dibilang halal, kemudian Galang yang paling tidak jelas, kerjanya juga tidak jelas, hobinya pamer kalau dia baru saja bisa menghisap rokok dengan gaya cool, merasa paling jagoan, dan terakhir cowok yang memiliki rambut gimbal ini juga merasa paling suci, apalagi setelah bertemu Astrid, yang dikenalnya di sebuah club. Masalah hadir ketika ternyata musuh-musuh lama Reno tidak membiarkan dia betul-betul bebas, entah karena masalahnya apa, bos narkoba dan anak buahnya pun sekarang mengincar Reno, sampai-sampai merusak panti asuhan hanya untuk mencari Reno. Sahabat-sahabat Reno pun tidak tinggal diam, dia akan membantu Reno… sayangnya ketika mau dibantu, Reno justru “disembunyikan” oleh Nayato.

Seperti yang saya bilang diawal-awal, “Tarung” masih tidak lepas dari cacat permanen yang selalu ada di film-film Nayato, yah termasuk saya tidak lagi heran ketika karakter seperti Reno tiba-tiba menghilang tidak lagi diceritakan, lalu tiba-tiba muncul lagi pada saat film mau selesai. Gaya “menculik” salah-satu karakter ini tidak begitu mengganggu ketimbang cara Nayato bercerita, dengan cerita yang ditumpang-tindih seenaknya saja. Belum lagi editing khas film Nayato yang dari adegan satu ke adegan lain selalu berakhir berantakan, disini dosis merusak otaknya pun tampaknya dilipat-gandakan. Nah ditambah selipan-selipan footage tidak penting diantara cerita yang makin absurd, yang jika saya hitung-hitung malah lebih banyak dari adegan action di film ini. Entah karena kecintaan pada kereta api atau bagaimana, Nayato asyiknya menampilkan adegan kereta api lewat, hmm jika saya tidak salah hitung sih lebih dari 10 kali yang disebar random tidak karuan. Jika saja adegan-adegan mubajir yang hanya dipakai untuk kereta api lewat ini dikumpul, mungkin bisa dipakai untuk menambah satu adegan baku hantam lagi, karena kok saya tidak bisa melihat jelas mereka yang ada di film ini sedang berkelahi atau main pukul saja ke segala arah, atau justru menari jaipongan.

Adegan aksi pukul-pukulan memang terbukti ada di “Tarung”, jadi tidak asal tipu tampil di trailer saja. Namun deretan adegan yang dipersiapkan untuk memacu adrenalin, malah sebaliknya memacu darah untuk naik ke ubun-ubun. Adegan baku hantam disajikan lagi dengan esekusi yang membuat otak ini mengkerut, potongan scene ke scene-nya sangat gaib, tidak kelihatan oleh mata saya, alhasil adegan perkelahian super-cepat itu jujur saja sama sekali tidak bisa dinikmati. Bag-big-bug, tiba-tiba semua orang berdarah… bag-big-bug saya mengedip dan setelah membuka mata sudah ada orang yang terkapar disana. Padahal Nayato sudah baik hati tidak mengemas “remang-remang” itu adegan-adegan perkelahian, tapi tetap saja saya tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ditonjok dan kena tonjok, semua berlalu dengan sekejap mata, penonton kecewa. “Tarung” juga main darah yang muncrat kesana-kemari dan Nayato juga punya adegan action yang cukup menarik di dalam angkot, tapi dua itu tidak menyelamatkan film ini dari “kekalahan”-nya yang telak. Semua serba dibuat menyebalkan, tidak bisa dinikmati, drama dan action-nya berantakan, karakter-karakternya bikin saya ingin melempar mereka satu-persatu dengan gas tiga kilogram, yang disini digantikan dengan tabung pemadam. “Tarung” walaupun berada di dunia film aksi-aksi-an, tetap saja jadi “horor”, karena Nayato toh tidak pernah mau belajar, mengulang kesalahan-kesalahannya dan lebih memilih untuk men­jiplak saja ciri khasnya yang buruk itu ke film yang punya trailer menjanjikan ini.

   Rating IMDB     :  6.9/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  15 September 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Christian Sugiono, Ringgo
   Genre               :  Action | Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Tebus (2011)

Mereka yang selama ini mengeluhkan bahwa tema cerita film-film Indonesia memiliki variasi yang sangat minim seharusnya dapat merasa cukup senang dengan kehadiran Tebus, yang ditulis dan disutradarai oleh Muhammad Yusuf, yang tahun lalu sempat menggoreskan sedikit memori buruk di banyak ingatan penonton film Indonesia lewat film yang menjadi debut penyutradaraannya, Jinx (2010). Tebus sama sekali bukan sebuah karya yang brilian maupun revolusioner – para sineas Korea Selatan sepertinya telah menetapkan standar yang sangat tinggi untuk film-film bertemakan pembalasan dendam. Namun, belajar dari kesalahannya di film pertama, Muhammad Yusuf berhasil menyusun Tebus menjadi sebuah film yang penuh dengan teka-teki dan intensitas ketegangan yang makin meningkat di tiap menitnya dengan menggunakan alur kisah maju mundur yang sangat efektif.

Kelemahan terbesar di film ini, harus diakui, berada pada 40 menit awal film ini berjalan. Dibuka dengan adegan seorang narapidana yang menjalani ekseskusi tembak matinya, bagian pembukaan film ini kemudian akan memperkenalkan penontonnya pada keluarga pengusaha besar, Rony Danuatmaja (Tio Pakusadewo), dengan istri, Sisca (Chintami Atmanegara), dan kedua puterinya, Ludmilla (Sheila Marcia Joseph) dan Karissa (Luna Sabrina), yang sedang berliburan ke sebuah desa kecil setelah kematian Alaric (Revaldo), putra satu-satunya keluarga tersebut. Liburan yang awalnya berjalan dengan tenang kemudian terganggu dengan teror yang datang kepada keluarga tersebut – yang menandai awal dari peningkatan intensitas ketegangan cerita film ini. Setelah beberapa saat, beberapa pria yang tak dikenal berhasil memasuki rumah tempat keluarga Danuatmaja berlibur dan segera memulai rentetan teror yang ternyata merupakan aksi balas dendam terhadap sebuah perbuatan yang pernah dilakukan Rony Danuatmaja di masa lalu.

Berjalan datar pada awalnya, Tebus kemudian mampu bangkit dan meningkatkan intensitas ketegangan ceritanya seiring dengan berjalannya durasi film. Departemen akting dan tata produksi film ini merupakan keunggulan yang paling nyata yang dapat disaksikan di sepanjang film. Beberapa kelemahan memang dapat ditemukan pada penulisan naskah dan dialog yang beberapa kali terdengar cheesy – walau masih dalam standar cheesy penulisan naskah sebuah film Indonesia. Namun secara keseluruhan, Tebus adalah sebuah presentasi yang cukup memuaskan.

   Rating IMDB     :  4.8/10  (Detail IMDB)
   Tangfal Rilis    :  31 Maret 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Jajang C. Noer, Chintami Atmanagara
   Genre               :  Thriller
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Tendangan dari Langit (2011)

Magis seorang Hanung Bramantyo, sepak bola yang merakyat, tema ‘from zero to hero’, nasionalisme,  dingin dan indahnya Bromo plus pesona Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, wow! melihat sekilas ‘ daftar hidangan’ dalam  menu Tendangan Dari Langit sepertinya film kedua sutradara Jomblo tahun ini  setelah sebelumnya sukses besar dengan ‘ ? ” (Tanda Tanya)-nya  itu dengan mudah menjadi sajian yang akan mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan penonton tanah air, sebut saja para penggemar Hanung, seperti saya salah satunya, para pecinta sepak bola termasuk di dalamnya para fans dari duo bintang Timnas Indonesia, Irfan Bachdim dan adik iparnya, Kim Jeffrey Kurniawan yang namanya tengah naik naik daun paska kesuksesan yang diraih Indonesia di ajang piala AFF Desember lalu.

Aroma kental jualan dan eksploitasi dengan memanfaatkan nama besar seorang Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan memang tidak lagi bisa terelakan, lihat saja wajah keduanya yang mendominasi posternya, walaupun pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan peran besar disini- bahkan Kim pun nyaris tidak memiliki dialog sama sekali namun jelas memasukan keduanya dalam jajaran cast pendukung adalah tindakan yang tepat untuk merangsang minat penontonnya untuk berbondong-bondong ke bioskop. Ok, untuk bagian itu Hanung jelas sudah sukses mendapatkan perhatian saya, dan Tendangan Dari Langit adalah sebuah film yang luar biasa jika anda adalah seorang bocah berusia 10 tahun, karena jujur saja buat saya pribadi film ini tidak lebih dari drama olahraga biasa yang banyak ditemui dalam film-film Hollywood lengkap dengan segala kedramatisan, hal-hal klise dan cheesy, bahkan anda pun tidak perlu menjadi jenius untuk memprediksi bagaimana akhirnya, namun menjadi  istimewa karena untuk genre ini terbilang jarang di perfilman Indonesia, baru ada Garuda di Dadaku yang memulai tren ini 2009 menjadi pilihan  meyegarkan untuk menghabiskan masa liburan sekolah .

Dan tentu saja sebagai film yang diproyeksikan untuk sebuah drama keluarga, Hanung sebenarnya sudah membuat Tendangan Dari Langit sebuah sajian inspirasional dan ringan, sajian yang mampu menjalankan misinya menggugah semangat para penonton mudanya, termasuk didalamnya suapan petuah-petuah moralnya tentang hubungan anak dan orangtua, semangat tidak mudah menyerah, mengejar impian, nasionalsime (yang sayangnya malah kurang bergaung), roman picisan pra remaja sampai persahabatan, semuanya terangkum dalam sepak terjang seorang Wahyu (Yosie Kristanto), pemuda tanggung yang memiliki bakat luar biasa dalam sepakbola namun tidak mendapatkan kesempatan karena ia hanya anak dari penjual minuman hangat dan kerupuk dari Desa Langitan di lereng Gunung Bromo yang terpencil. Apa yang terjadi kemudian tentu ada harapan dan konflik yang kemudian berjalan beringan membentuk dinamika dari Tendangan Dari Langit, sayangnya karena film yang naskahnya di tulis oleh Fajar Nugroho ini tidak memiliki plot yang sekuat premisnya, ia kemudian banyak mederita dalam perjalannya. Munculnya beberapa lubang cerita yang cukup menganggu, konflik-konflik yang muncul terkesan teralalu digampangan dalam penyelasaiannya, karakter-karakter menarik yang kurang bisa dimanfaatkan menjadi dosa-dosa terbesar di film yang juga meminjam nama salah satu klub sepakbola asal Malang, Persema ini sebagai bagian kisahnya, termasuk pelatihnya sendiri Timo Scheunemann, Matias Ibo, fisioterapi gempal yang belakangan ini sering kita lihat modar mandir dilayar televisi ketika ada pemain timnas yang cidera di lapangan termasuk cameo dari Bima Sakti, mantan pemain timnas.

   Rating IMDB     :  6.5/10  (Detail IMDB)
   Tangfal Rilis    :  25 Agustus 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Agus Kuncoro, Giorgino Abraham
   Genre               :  Drama
   Size                  :  500MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-500MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kumpulan Film Bioskop - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger