Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label Semua Umur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semua Umur. Tampilkan semua postingan

Ambilkan Bulan (2012) / Bring Me the Moon (2012)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab atas penulisan naskah cerita film komedi Sule, Ay Need You yang dirilis beberapa waktu yang lalu – Ambilkan Bulan berkisah mengenai seorang gadis cilik berusia 10 tahun, Amelia (Lana Nitibaskara), yang merasa hidupnya selalu dirundung rasa kesepian semenjak wafatnya sang ayah (Agus Kuncoro). Rasa kesepian tersebut semakin diperparah dengan kesibukan sang ibu, Ratna (Astri Nurdin), yang sepertinya selalu memberikan jarak diantara hubungan keduanya. Tidak heran, ketika mendengar bahwa paman dan bibinya (Manu dan Harbani Setyowati Wibowo) yang berasal dari sebuah desa di Solo akan berkunjung ke Jakarta, Amelia merasa senang yang begitu luar biasa.

Oleh paman dan bibinya, Amelia kemudian diajak untuk berliburan ke desa. Ide ini awalnya ditolak oleh Ratna. Namun, tidak tahan melihat kesedihan puterinya, Ratna akhirnya membiarkan Amelia turut serta bersama paman dan bibinya kembali ke Solo. Sesampainya di Solo, Amelia bertemu dengan Ambar (Berlianda Adelianan Naafi), sepupunya yang selama ini hanya berhubungan dengannya melalui situs jejaring sosial Facebook. Ia juga bertemu dengan kakek dan neneknya (Adrian Simon dan Titi Dibyo) yang selama ini belum pernah ia jumpai. Liburan Amelia terasa semakin lengkap setelah mengenal beberapa anak lain di desa tersebut yang segera menjadi temannya. Walau begitu, ketika Amelia dan teman-teman barunya memutuskan untuk berpetualang ke sebuah hutan yang dikenal angker di desa tersebut, sebuah mimpi buruk bersiap untuk menjadi nyata bagi Amelia.

Jalan cerita mengenai sekelompok anak yang ketika masa liburannya kemudian menghadapi permasalahan pelik yang disebabkan oleh beberapa karakter antagonis – sambil diiringi dengan deretan adegan musikal – jelas bukanlah sebuah plot penceritaan yang benar-benar baru. Pun begitu, di tangan Ifa Isfansyah – yang tahun lalu sukses besar dalam mengarahkan Sang Penari yang menjadi salah satu film Indonesia terbaik dan paling banyak dibicarakan – plot cerita yang terasa begitu familiar tersebut mendapatkan beberapa sentuhan yang membuatnya terasa lebih segar. Sentuhan pertama berasal dari departemen visual yang melibatkan penggunaan animasi yang begitu mampu menyatu dengan jalan cerita film dan kemudian diperkuat dnegan penggunaan lagu-lagu karya AT Mahmud yang begitu mempesona.

Diarahkan oleh Edi Cahyono dan Kelik Wicaksono, penampilan dari efek visual yang hadir dalam jalan cerita Ambilkan Bulan mampu tampil begitu kuat dalam menerjemahkan dunia imajinasi yang diciptakan karakter Amelia dan membuatnya menyatu dengan padu bersama jalan cerita yang berlatarbelakangkan dunia nyata. Salah satu penggunaan efek visual animasi terbaik di industri film Indonesia. Sementara itu, deretan adegan musikal dalam Ambilkan Bulan diisi oleh lagu-lagu karya AT Mahmud yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh Lana Nitibaskara serta deretan kelompok musik dan penyanyi papan atas Indonesia. Penggunaan lagu-lagu AT Mahmud dalam Ambilkan Bulan terasa begitu cerdas dan mampu menghasilkan aliran emosional yang kuat dalam dalam beberapa adegan,

Terlepas dari kelebihan-kelebihan tersebut, naskah cerita Ambilkan Bulan yang ditulis oleh Jujur Prananto harus diakui memiliki cukup banyak kelemahan yang membuat penceritaan film ini tidak seluruhnya dapat berjalan dengan baik. Banyak dari karakter-karakter pendukung dan plot-plot kisah yang hadir dalam Ambilkan Bulan terasa terlalu mentah dan gagal untuk mendapatkan penggalian yang lebih dalam. Konflik-konflik yang dihadirkan juga kebanyakan tampil kurang kuat sehingga gagal untuk memberikan efek penceritaan yang seharusnya mampu membuat penonton lebih merasa dilibatkan dalam jalan cerita film ini. Naskah cerita Ambilkan Bulan terasa cukup lemah dan jika tanpa kehadiran lagu-lagu AT Mahmud tadi, mungkin film ini akan terasa begitu hampa dalam penyampaiannya.

Para jajaran pengisi departemen akting film ini sendiri mampu menghadirkan penampilan terbaik mereka. Lana Nitibaskara memiliki kemampuan akting yang cukup mumpuni. Walaupun begitu, Lana harus diakui masih belum memiliki kharisma yang cukup kuat untuk ditempatkan sebagai bintang utama. Ini yang menyebabkan mengapa ketika dalam beberapa adegan, ketika Lana hadir dengan dampingan beberapa pemeran lain, maka kehadiran Lana lebih terasa minimalis jika dibandingkan pemeran lainnya tersebut. Diantara pemeran cilik yang hadir, Bramantyo Suryo Kusumo yang memerankan karakter Kuncung berhasil tampil mencuri perhatian  dengan dialog-dialognya yang terasa begitu lugu dan menghibur.

Secara keseluruhan, terlepas dari segala kekurangannya – yang kebanyakan berasal dari naskah cerita yang kurang mampu berkembang di beberapa sudut cerita, adalah sangat sulit untuk tidak menyukai Ambilkan Bulan. Diantara sekian banyak film Indonesia yang ditujukan untuk anak-anak, Ambilkan Bulan mampu tampil menonjol dengan unsur hiburan dan nilai pendidikan yang benar-benar sesuai dengan karakter dan usia mereka. Di sepanjang penceritaannya, Ambilkan Bulan tidak mencoba untuk menghadirkan sebuah topik bahasan yang melampaui usia target penontonnya serta tidak pernah berusaha terlihat tampil dangkal dalam menampilkan unsur hiburannya. Presentasi yang kuat dari lagu-lagu karya AT Mahmud semakin mampu membungkus Ambilkan Bulan menjadi sebuah sajian film keluarga yang cukup unggul.

   Rating IMDB     :  -/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  28 June 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  TVrip (BAGUS)
   Bintang             :  Lana Nitibaskara, Agus Kuncoro
   Genre               :  Drama | Musical
   Size                  :  350MB MKV  
 
Indowebster-TVrip-350MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Negeri 5 Menara (2012)

Tidak salah jika Negeri 5 Menara kemudian mendapatkan perbandingan dalam skala berat terhadap film Laskar Pelangi (2008) yang legendaris itu. Sama-sama merupakan film dengan naskah cerita yang mengadaptasi sebuah novel popular, sama-sama mengisahkan mengenai perjuangan beberapa anak dari keluarga dari strata sosial menengah ke bawah yang mencoba untuk mencapai mimpi besar mereka serta, tentunya, sama-sama mengisahkan mengenai persahabatan erat yang kemudian terjalin antara mereka terlepas dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri masing-masing, Negeri 5 Menara, sayangnya tidak memiliki kedalaman cerita seperti yang dimiliki Laskar Pelangi. Affandi Abdul Rachman (The Perfect House, 2011) kembali membuktikan kehandalannya dalam mengarahkan cerita dan para pengisi departemen akting filmnya. Namun jalan cerita yang minim konflik yang berarti membuat Negeri 5 Menara terasa tidak memiliki esensi cerita yang kuat untuk disampaikan.

Diangkat dari novel populer berjudul sama karya A Fuadi, Negeri 5 Menara memulai kisahnya dengan seorang karakter anak laki-laki yang bernama Alif (Gazza Zubizareta). Bersama temannya, Randai (Sakurta Ginting), Alif bertekad untuk melanjutkan sekolahnya di sebuah sekolah menengah atas popular di Bukit Tinggi demi mencapai impian mereka untuk dapat berkuliah di Institut Negeri Bandung. Sebuah impian yang kemudian harus dikubur Alif dalam-dalam karena kedua orangtuanya (David Chalik dan Lulu Tobing) lebih menginginkan agar Alif melanjutkan pendidikannya melalui jalur pendidikan sebuah pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Walaupun berat, Alif akhirnya menyetujui keinginan kedua orangtuanya tersebut.

Setibanya di Pesantren Madani – nama pesantren yang terletak di daerah Ponorogo tersebut, Alif mulai membiasakan diri dengan lingkungan barunya. Awalnya, Alif hanya bersikap setengah hati dalam melakukan proses kegiatan belajarnya di pesantren tersebut. Namun, lama-kelamaan, Alif mulai menikmati kehidupan barunya, khususnya setelah ia mengenal sahabat-sahabat barunya, Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Gowa, Atang (Rizki Ramdani) yang berasal dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) yang berasal dari Medan, Said (Ernest Samudera) yang berasal dari Surabaya serta Dulmadjid (Aris Putra) yang berasal dari Madura. Bersama-sama, keenam anak lelaki yang menemukan diri mereka sebagai Sahibul Menara tersebut mulai menjalani berusaha semampu mereka untuk belajar guna membangun titian hidup yang lebih baik lagi di masa yang akan mendatang.

Sejujurnya, sama sekali tidak ada masalah berarti dalam Negeri 5 Menara. Namun, ketiadaan masalah itulah yang membuat Negeri 5 Menara terasa kurang dramatis dan sedikit gagal untuk mampu tampil lebih berkesan. Naskah cerita Negeri 5 Menara yang dituliskan oleh Salman Aristo (Jakarta Maghrib, 2011) seringkali tampil dalam area penceritaan yang terbatas, hanya mampu terlihat menceritakan mengenai kehidupan para karakternya dari permukaan kehidupan mereka tanpa pernah berhasil menyentuh dan menceritakan permasalahan yang mereka hadapi secara lebih mendalam. Tidak ada konflik yang dikisahkan berjalan terlalu rumit maupun kompleks dalam jalan cerita film ini. Di satu sisi, jelas hal ini akan membuat Negeri 5 Menara menjadi lebih mudah untuk dicerna. Di sisi lain, yang sayangnya tampil lebih dominan, ketiadaan konflik yang berarti tersebut membuat Negeri 5 Menara terkesan kurang esensial.

Keluhan lain mungkin akan muncul dari pengisahan ending cerita film ini. Dengan minimnya konflik yang berarti pada jalan cerita Negeri 5 Menara, ending yang dipilihkan untuk jalan cerita film ini menjadi terkesan datang dengan tiba-tiba dan ditampilkan dengan terlalu buru-buru. Hasilnya, wajar jika beberapa penonton merasa sedikit kurang nyaman dan merasa ending kisah Negeri 5 Menara tampil kurang menggigit. Untungnya, karakter-karakter yang dihadirkan dalam jalan cerita Negeri 5 Menara mampu dihadirkan sebagai deretan karakter yang mudah untuk disukai. Karenanya, meskipun permasalahan yang mereka hadapi terkesan cukup sepele dan kurang mendalam, penonton tetap akan mudah merasakan rasa simpati dan terhubung kepada karakter-karakter tersebut. Penulisan plot komedi pada beberapa sudut cerita juga berhasil membuat jalan cerita dan karakter-karakter dalam Negeri 5 Menara tampil lebih menarik.

Sebagai seorang sutradara, Affandi Abdul Rachman juga mampu menunjukkan kapabilitasnya dalam mengarahkan para pengisi departemen akting filmnya. Dipimpin oleh jajaran pemeran muda yang masih minim mengecap dunia akting, Affandi mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaik setiap pemainnya sehingga membuat mereka tampil alami dengan chemistry yang erat antara satu pemain dengan yang lain. Kehadiran pemeran-pemeran dewasa seperti Lulu Tobing, Ikang Fawzi, David Chalik dan Donny Alamsyah semakin memperkokoh barisan akting film Negeri 5 Menara yang tampil memuaskan. Walaupun tidak ada yang menonjol dan istimewa, tata produksi Negeri 5 Menara juga berhasil menjadi faktor keunggulan yang akan membuat setiap penonton menikmati setiap momen yang mereka lewati ketika menyaksikan film ini.

Anda boleh saja memandang sebelah mata terhadap Negeri 5 Menara dan menganggapnya sebagai sebuah versi (terlalu) ringan dari film Laskar Pelangi. Benar, kurangnya tampilan konflik yang mampu hadir memikat membuat Negeri 5 Menara terasa kurang begitu mampu untuk mengikat erat emosi para penontonnya. Namun, Anda tidak dapat menyangkal kekuatan cara penyajian cerita Affandi Abdul Rachman yang ia hadirkan di film ini. Affandi mampu menjaga intensitas aliran emosi dari jalan cerita dengan begitu baik, sama baiknya dengan kemampuannya dalam mengarahkan setiap pengisi jajaran departemen akting film ini untuk mampu tampil meyakinkan serta menghadirkan kisah Negeri 5 Menara dengan dengan tata produksi yang unggul. Bukan sebuah karya yang istimewa, namun jelas merupakan sebuah karya dengan sentuhan kualitas yang tinggi.

   Rating IMDB     :  7.8/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  1 March 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  TVrip (BAGUS)
   Bintang             :  Donny Alamsyah, D. Syamrizal
   Genre               :  Drama | Family
   Size                  :  500MB MKV  
 
Indowebster-TVrip-500MB-MKV  : 
PASSWORD : idfl.us
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Langit biru (2011)

Dalam mendukung penggalakan kampanye anti bullying serta anti kekerasan di kalangan anak-anak sekolah, rumah produksi Blue Caterpillar Films bekerjasama dengan Kalyana Shira Films merilis Langit Biru, sebuah film musikal anak yang naskah ceritanya ditulis oleh Melissa Karim dengan bantuan supervisi dari Nia Dinata. Dalam Langit Biru, Tomtim (Jeje Soekarno) merupakan seorang anak laki-laki yang memiliki bakat luar biasa dalam hal menggambar. Dalam kesehariannya, Tomtim dapat ditemui sedang berkumpul bersama dua sahabatnya, Biru (Ratnakanya) dan Amanda (Beby Natalie). Selalu menghabiskan kesehariannya dengan dua teman perempuannya, Tomtim kemudian menjadi sasaran bulan-bulanan Bruno (Cody McClendon) di sekolahnya. Yang lebih parah, Tomtim sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melawan dan seringkali menunggu untuk ‘diselamatkan’ dan dibela terlebih dahulu oleh teman perempuannya, Biru.

Tomtim bukanlah satu-satunya korban kejahilan dan kenakalan Bruno beserta tiga teman akrabnya, Jason (Patton Otlivio), Samuel (Nathan Carol) dan Erlangga (Jonathan Prasetyo). Di sekolahnya, keempat anak ini memang dikenal sebagai biang permasalahan. Merasa tidak tahan lagi melihat perlakuan Bruno dan teman-temannya, Biru akhirnya mengusulkan pada Amanda dan Tomtim untuk memanfaatkan sebuah proyek yang diberikan guru mereka, Miss Dewi (Becky Tumewu), untuk mengungkap semua seluruh tindak-tanduk kenakalan Bruno di sekolah. Biru, Amanda dan Tomtim memang dapat dengan mudah untuk merekam seluruh perbuatan nakal Bruno dan teman-temannya di sekolah. Namun, ketika mereka berusaha untuk memasuki kehidupan Bruno lebih mendalam, sebuah kenangan pahit yang telah lama disimpan oleh Bruno rapat-rapat pun akhirnya mulai terbuka.

Dengan tema anti bullying dan anti kekerasan yang ingin dibawakan film ini, Melissa Karim mampu memulai jalan cerita film ini dengan cukup baik. Pada awalnya memperkenalkan tiga karakter protagonis utama yang menjadi fokus jalan cerita film ini, bagaimana latar belakang kehidupan mereka serta bagaimana keseharian mereka dimulai, Langit Biru juga secara perlahan mulai memasukkan konflik yang dihadapi oleh Biru, Amanda dan Tomtim dengan Bruno dan teman-temannya. Dirangkai dalam sebuah jalinan cerita yang memiliki ikatan unsur hiburan yang kuat, serta semakin dipermanis dengan lagu-lagu yang terdengar cukup catchy dan ditampilkan dengan menggunakan tata koreografi yang menarik, bagian perkenalan awal penonton terhadap kisah awal Langit Biru harus diakui akan meninggalkan cukup banyak kesan.

Sayangnya, hal tersebut tidak begitu bertahan terlalu lama. Seiring dengan berjalannya cerita film ini, Langit Biru kemudian memperdalam lagi latar belakang kehidupan setiap karakter yang hadir di dalam jalan ceritanya. Semakin banyak intrik cerita dan semakin banyak kehadiran karakter-karakter pendukung. Secara perlahan, beberapa karakter yang tadinya hadir dalam porsi yang cukup banyak menghilang dan digantikan oleh kisah-kisah yang datang dari karakter pendukung. Disinilah pola penceritan Langit Biru terasa begitu terpecah. Masuknya beberapa plot cerita tambahan yang sama sekali tidak terkait dengan plot cerita utama – seperti keikutsertaan karakter adik Amanda, Brandon (Brandon De Angelo), dalam sebuah kontes menari yang ditampilkan secara panjang atau kisah romansa ramaja yang mulai tumbuh antara karakter Amanda dengan karakter Jason – juga membuat penceritaan Langit Biru terasa semakin bertele-tele.

Karakter-karakter anak yang terdapat di dalam jalan cerita Langit Biru diperankan oleh aktor dan aktris muda yang mungkin belum pernah atau masih minim mendalami dunia akting. Untungnya, di bawah pengarahan sutradara Lasja F. Susatyo, para aktor dan aktris muda tersebut tampil cukup maksimal, baik ketika berusaha untuk menghidupkan peran mereka, mengucapkan barisan-barisan dialog yang harus mereka ucapkan atau menampilkan koreografi dari lagu-lagu yang mereka tampilkan. Ratnakanya yang berperan sebagai Biru tampil dengan kemampuan akting yang paling maksimal ketika ia berhasil mengeksplorasi seluruh emosi yang harus dijalani karakter yang ia perankan. Pun begitu, beberapa kali masih terasa tercipta suasana awkward yang dapat dirasakan dalam permainan akting setiap aktor dan aktris muda tersebut, walaupun hal tersebut sama sekali tidak dapar dianggap sebagai sebuah masalah yang besar dan mengganggu. Departemen akting Langit Biru juga diperkuat oleh penampilan aktor dan aktris senior seperti Ari Wibowo, Donna Harun hingga Ira Duaty juga cukup mampu menambah kokoh kekuatan penampilan akting di film ini.

Tidak seperti kebanyakan film musikal anak Indonesia lainnya – yang terlihat kesulitan untuk menyeimbangkan antara penceritaan drama dan penceritaan musikal di dalam jalan ceritanya – Lasja F. Susatyo berhasil menampilkan elemen musikal pada Langit Biru dengan menarik dan dalam porsi yang cukup, tidak kurang dan tidak berlebihan. Lagu-lagu yang ditampilkan secara keseluruhan juga menarik, dan semakin terkesan catchy setelah ditampilkan dalam balutan koreografi yang handal. Kekurangan Langit Biru memang terletak pada naskah ceritanya yang bergerak semakin melebar seiring berjalannya cerita film ini. Hasilnya, dengan tema tunggal yang sebenarnya telah diemban semenjak awal, penceritaan Langit Biru malah berakhir dengan kesam bertele-tele. Pun begitu, Langit Biru masih cukup menarik untuk disimak, khususnya dengan adanya dukungan akting para pemerannya yang tidak mengecewakan serta kualitas tata produksi yang mampu menghasilkan tata gambar dan suara yang meyakinkan.

   Rating IMDB     :  5.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  17 November 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Annisa Pinandita & Joko Anwar
   Genre               :  Drama | Musical
   Size                  :  500MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-500MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tanah Surga… Katanya (2012)

Deddy Mizwar sepertinya belum puas untuk bermain di sekitar wilayah drama satir. Setelah film-film semacam Kentut (2011) dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), Deddy kembali hadir sebagai produser – sekaligus hadir sebagai pemeran dalam kapasitas terbatas – untuk film terbaru arahan Herwin Novianto (Jagad X Code, 2009) yang berjudul Tanah Surga… Katanya. Dengan naskah cerita yang dittlis oleh Danial Rifki, Tanah Surga… Katanya mencoba untuk membahas struktur kehidupan masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara Indonesia – Malaysia, khususnya dari segi ekonomi. Sebuah sentuhan kritis yang jelas terasa begitu sensitif, namun Tanah Surga… Katanya mampu menyajikannya dengan penceritaan yang elegan.

Tanah Surga… Katanya berkisah mengenai dilema kehidupan yang dialami oleh Hasyim (Fuad Idris) ketika ia diajak oleh anaknya, Haris (Ence Bagus), untuk meninggalkan desanya yang berada di daerah pinggiran perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat dan berpindah ke Malaysia. Pilihan ini sendiri diberikan oleh Haris karena selama ini ia telah mendapatkan rezeki yang melimpah dengan bekerja di Malaysia sekaligus mengingat fakta bahwa kehidupan masyarakat di daerah pinggiran tersebut sama sekali tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah Republik Indonesia. Sebagai seorang mantan pejuang kemerdekaan yang masih menggenggam nilai-nilai nasionalisme yang tinggi, Hasyim jelas menolak ajakan tersebut. Akhirnya, Haris hanya mengajak puterinya, Salina (Tissa Biani Azzahra), untuk berangkat ke Malaysia dan meninggalkan ayah beserta puteranya, Salman (Osa Aji Santoso), yang tidak ingin meninggalkan sang kakek sendirian.

Dilema kehidupan di daerah perbatasan Indonesia – Malaysia tidak semata-mata hanya dialami oleh Hasyim dan keluarganya. Tanah Surga… Katanya juga menyinggung mengenai masalah pendidikan melalui karakter guru muda bernama Astuti (Astri Nurdin) yang harus berjuang mengajar sendirian di desa tersebut karena keterbatasan tenaga guru yang mengajar disana. Ada juga karakter Anwar (Ringgo Agus Rahman), seorang dokter yang berasal dari Bandung yang baru saja tiba disana setelah ditugaskan dari kota asalnya di Bandung. Melalui kehidupan yang dijalani oleh karakter-karakter tersebut di sepanjang penceritaan film inilah Tanah Surga… Katanya berusaha menunjukkan bahwa tanah air Indonesia tidak seindah dan semakmur bayangan masyarakatnya selama ini, khususnya ketika pemerintah sama sekali bersikap acuh kepada nasib keseharian para warganya.

Satir yang disajikan oleh Tanah Surga… Katanya memang secara berani mengkonfrontir berbagai isu yang dihadapi oleh Indonesia selama ini dengan Malaysia. Memang, jalan cerita film ini bukanlah berniat untuk menanamkan semangat kebencian terhadap negara tetangganya tersebut. Tanah Surga… Katanya memilih untuk membandingkan secara langsung bagaimana kesejahteraan kehidupan yang saling bertolak belakang antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Malaysia yang hidup di garis perbatasan, dan bagaimana masyarakat Indonesia mengais-ngais rezeki di wilayah negara tetangganya akibat kurangnya kepedulian pemerintah yang berujung pada hilangnya pula rasa kecintaan dan nasionalisme masuarakat di daerah tersebut terhadap negeri kelahiran mereka sendiri. Kritis. Tajam. Namun pada kebanyakan bagian, Tanah Surga… Katanya justru terkesan menyalahkan kesejahteraan negeri tetangga yang begitu memikat daripada mengeksplorasi masalah yang dihadapi karakter masyarakat di wilayah Indonesia dan usaha mereka untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Satir dan sindiran mengenai sikap nasionalisme di dalam jalan cerita Tanah Surga… Katanya sendiri mampu dihadirkan secara elegan, melalui berbagai dialog maupun adegan sindiran yang cukup berhasil untuk menghantarkan pesannya – walau pada beberapa bagian terkesan dieksekusi secara terlalu berlebihan. Pun begitu, kematangan kemampuan penampilan akting para jajaran pengisi departemen akting Tanah Surga… Katanya berhasil membuat berbagai sisi kehidupan yang ingin disampaikan film ini menjadi dapat tersampaikan dengan lugas. Pujian khusus tentu layak disematkan kepada pemeran Salman, Osa Oji Santoso, yang mampu memberikan penampilan akting yang apik sekaligus menjaga ritme emosional cerita di setiap penampilannya. Nama-nama lain seperti Ence Bagus, Fuad Idris, Ringgo Agus Rahman – yang sepertinya semakin baik dalam memilih peran-peran yang ia mainkan, Astri Nurdin dan Norman Akyuwen semakin menambah kokoh kekuatan pondasi akting film ini.

Herwin Novianto sendiri harus diberikan pujian atas kemampuannya untuk mengarahkan film ini, baik dari sisi penjagaan alur ritme penceritaan film maupun pengarahan dari tata produksi film ini. Jelas tidak mudah untuk mengarahkan sebuah drama satir agar tetap mampu dinikmati oleh khalayak ramai. Namun, Herwin berhasil mengeksekusi naskah cerita arahan Danial Rifki dengan cukup baik. Kekuatan penceritaan tersebut juga didukung dengan kualitas penampilan audio dan visual yang begitu berkelas. Sinematografi arahan Anggi Frisca mampu menangkap alam Kalimantan dengan penuh kesan eksotismenya, sementara tata musik karya Thoersi Argeswara juga mampu mengisi setiap adegan dengan tambahan emosi yang lebih kuat.

Harus diakui, jika dibandingkan dengan film-film Indonesia lain yang bertema serupa seperti Batas (2011) atau Tanah Air Beta (2010), Tanah Surga… Katanya memiliki nilai kritikan yang jauh lebih tajam. Sayangnya, seiring dengan berjalannya durasi film, Tanah Surga… Katanya menjadi kehilangan fokus, berlarut dalam drama yang kurang mampu tergarap dengan baik dan semakin bertele-tele dalam penyampaian ceritanya. Pun begitu, dukungan keapikan penampilan akting para jajaran pemerannya serta kualitas tata produksi film ini setidaknya tetap mampu membuat Tanah Surga… Katanya menjadi sebuah sajian yang berkualitas untuk disimak. Tidak istimewa, namun jelas sebuah hasil produksi dengan kualitas yang cukup memuaskan.
   Rating IMDB     :  0.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  15 Agustus 2012 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  VCDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Osa Aji Santoso, Fuad Idris
   Genre               :  Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-VCDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tendangan dari Langit (2011)

Magis seorang Hanung Bramantyo, sepak bola yang merakyat, tema ‘from zero to hero’, nasionalisme,  dingin dan indahnya Bromo plus pesona Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, wow! melihat sekilas ‘ daftar hidangan’ dalam  menu Tendangan Dari Langit sepertinya film kedua sutradara Jomblo tahun ini  setelah sebelumnya sukses besar dengan ‘ ? ” (Tanda Tanya)-nya  itu dengan mudah menjadi sajian yang akan mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan penonton tanah air, sebut saja para penggemar Hanung, seperti saya salah satunya, para pecinta sepak bola termasuk di dalamnya para fans dari duo bintang Timnas Indonesia, Irfan Bachdim dan adik iparnya, Kim Jeffrey Kurniawan yang namanya tengah naik naik daun paska kesuksesan yang diraih Indonesia di ajang piala AFF Desember lalu.

Aroma kental jualan dan eksploitasi dengan memanfaatkan nama besar seorang Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan memang tidak lagi bisa terelakan, lihat saja wajah keduanya yang mendominasi posternya, walaupun pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan peran besar disini- bahkan Kim pun nyaris tidak memiliki dialog sama sekali namun jelas memasukan keduanya dalam jajaran cast pendukung adalah tindakan yang tepat untuk merangsang minat penontonnya untuk berbondong-bondong ke bioskop. Ok, untuk bagian itu Hanung jelas sudah sukses mendapatkan perhatian saya, dan Tendangan Dari Langit adalah sebuah film yang luar biasa jika anda adalah seorang bocah berusia 10 tahun, karena jujur saja buat saya pribadi film ini tidak lebih dari drama olahraga biasa yang banyak ditemui dalam film-film Hollywood lengkap dengan segala kedramatisan, hal-hal klise dan cheesy, bahkan anda pun tidak perlu menjadi jenius untuk memprediksi bagaimana akhirnya, namun menjadi  istimewa karena untuk genre ini terbilang jarang di perfilman Indonesia, baru ada Garuda di Dadaku yang memulai tren ini 2009 menjadi pilihan  meyegarkan untuk menghabiskan masa liburan sekolah .

Dan tentu saja sebagai film yang diproyeksikan untuk sebuah drama keluarga, Hanung sebenarnya sudah membuat Tendangan Dari Langit sebuah sajian inspirasional dan ringan, sajian yang mampu menjalankan misinya menggugah semangat para penonton mudanya, termasuk didalamnya suapan petuah-petuah moralnya tentang hubungan anak dan orangtua, semangat tidak mudah menyerah, mengejar impian, nasionalsime (yang sayangnya malah kurang bergaung), roman picisan pra remaja sampai persahabatan, semuanya terangkum dalam sepak terjang seorang Wahyu (Yosie Kristanto), pemuda tanggung yang memiliki bakat luar biasa dalam sepakbola namun tidak mendapatkan kesempatan karena ia hanya anak dari penjual minuman hangat dan kerupuk dari Desa Langitan di lereng Gunung Bromo yang terpencil. Apa yang terjadi kemudian tentu ada harapan dan konflik yang kemudian berjalan beringan membentuk dinamika dari Tendangan Dari Langit, sayangnya karena film yang naskahnya di tulis oleh Fajar Nugroho ini tidak memiliki plot yang sekuat premisnya, ia kemudian banyak mederita dalam perjalannya. Munculnya beberapa lubang cerita yang cukup menganggu, konflik-konflik yang muncul terkesan teralalu digampangan dalam penyelasaiannya, karakter-karakter menarik yang kurang bisa dimanfaatkan menjadi dosa-dosa terbesar di film yang juga meminjam nama salah satu klub sepakbola asal Malang, Persema ini sebagai bagian kisahnya, termasuk pelatihnya sendiri Timo Scheunemann, Matias Ibo, fisioterapi gempal yang belakangan ini sering kita lihat modar mandir dilayar televisi ketika ada pemain timnas yang cidera di lapangan termasuk cameo dari Bima Sakti, mantan pemain timnas.

   Rating IMDB     :  6.5/10  (Detail IMDB)
   Tangfal Rilis    :  25 Agustus 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Agus Kuncoro, Giorgino Abraham
   Genre               :  Drama
   Size                  :  500MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-500MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Surat Kecil untuk Tuhan (2011)

Jika pada beberapa film nasional yang beredar di awal tahun kisah mengenai seorang karakter yang menderita sebuah penyakit mematikan ditempatkan sebagai plot pendukung dari kisah utama film-film tersebut, maka pada Surat Kecil Untuk Tuhan kisah tersebut justru menjadi jalan cerita utama. Diinspirasi dari sebuah kisah nyata, Surat Kecil Untuk Tuhan jelas dibuat untuk menjadi sebuah melodrama tearjerker yang sekaligus berusaha untuk memberikan beberapa inspirasi moral kepada para penontonnya. Niat yang mulia, namun Surat Kecil Untuk Tuhan kekurangan cukup banyak elemen pendukung yang akan mampu membuat film ini tidak hanya sekedar menjadi film yang menyentuh maupun menginspirasi, namun juga menghindarkan penontonnya dari rasa kebosanan yang luar biasa ketika menyaksikannya.

Naskah cerita Surat Kecil Untuk Tuhan yang ditulis oleh Beby Hasibuan (Tebus) sendiri didasarkan pada novel berjudul sama karya Agnes Danovar yang menuliskan rangkaian kisah nyata mengenai ketegaran seorang gadis bernama Gita Sesa Wanda Cantika dalam menghadapi penyakit kanker jaringan lunak yang ia derita. Gita Sesa Wanda Cantika, atau yang lebih akrab dipanggil dengan Keke (Dinda Hauw), adalah seorang gadis rupawan yang sepertinya memiliki masa depan yang cukup cerah. Terlepas dari latar belakangnya yang memiliki ayah (Alex Komang) dan ibu (Ranty Purnamasari) yang telah berpisah, Keke adalah gadis cerdas yang memiliki dua kakak (Egi John Foreisythe dan Dwi Andika) yang sangat menyayanginya serta sekumpulan sahabat karib yang setia menemaninya. Keke bahkan baru saja mengenal arti sebuah cinta pertama terhadap teman satu sekolahnya, Andi (Esa Sigit).

Namun, semua berubah ketika Keke mulai merasakan ada sesuatu yang aneh mengenai kondisi fisiknya. Bermula pada gejala mimisan yang terus menerus dialaminya, kesehatan Keke akhirnya diperiksakan oleh sang ayah ke rumah sakit. Mengejutkan, dokter kemudian memvonis Keke mengidap kanker jaringan lunak, sebuah penyakit yang tidak hanya ganas namun juga merupakan salah satu penyakit yang masih langka di dunia. Secara perlahan kondisi fisik Keke mulai melemah. Tidak mau menyerah begitu saja, Keke berusaha terus bertahan dari penyakitnya yaang dilaakukannya sekaligus untuk menguatkan orang-orang yang sangat menyayanginya agar tidak bersedih dalam menyaksikan kondisinya.

Selain dari keberhasilan tim tata rias yang mampu menghadirkan tampilan seorang penderita penyakit kanker jaringan lunak dengan meyakinkan, Surat Kecil Untuk Tuhan dapat dikatakan gagal untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi penontonnya. Kesalahan terbesar dari film ini adalah jalan ceritanya yang terlihat terlalu berusaha untuk memberikan adegan-adegan yang mampu untuk mengundang rasa simpati dan haru serta diiringi dialog-dialog yang terkesan terlalu berusaha untuk menginspirasi penontonnya. Ditambah dengan gagalnya kemampuan Harris Nizam dalam mengembangkan setiap adegan dan karakter pengisi cerita film ini dengan baik, Surat Kecil Untuk Tuhan justru terhindar dari kesan menyentuh maupun inspiratif dan berakhir sebagai sebuah sajian yang cenderung datar dan monoton.

   Rating IMDB     :  4.3/10  (Detail IMDB)
   Tangfal Rilis    :  7 July 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Alex Komang, Dinda Hauw
   Genre               :  Drama |
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Serdadu Kumbang (2011)

Sebuah film Indonesia. Dengan latar belakang cerita di sebuah daerah yang mungkin belum banyak dieksplorasi oleh para sineas perfilman negara ini. Menggunakan anak-anak setempat sebagai pemerannya. Mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari dari anak-anak tersebut. Memberi fokus lebih pada satu karakter anak dimana ia sedang memiliki permasalahan dalam menghadapi kehidupan atau keluarganya. Dan jika beruntung, sebuah kisah mengenai pendidikan yang didapatkan oleh anak-anak tersebut. Laskar Pelangi (2008)? Bukan. Denias, Senandung di Atas Awan (2006) ? Bukan. The Mirror Never Lies? Bukan. Batas? Juga bukan.

Film ini berjudul Serdadu Kumbang. Diarahkan oleh Ari Sihasale, yang lewat rumah produksi yang ia miliki bersama istrinya Nia Zulkarnaen, Alenia Pictures, pernah memberikan penonton Indonesia film Senandung di Atas Awan dan Tanah Air Beta (2010), Ari masih setia untuk mengangkat kehidupan anak-anak dari daerah terpencil sebagai fokus cerita di filmnya. Sayangnya, saat ini seluruh sineas perfilman Indonesia juga sepertinya sedang keranjingan untuk menghasilkan film-film bertema sama. Jangan salah tanggap, adalah sebuah hal yang sangat terpuji untuk mencari berbagai sisi lain dari banyak daerah Indonesia untuk ditampilkan dalam film Indonesia. Hanya saja, akhir-akhir ini para sineas Indonesia sepertinya telah kehabisan akal mengenai bagaimana untuk menampilkan tema tersebut ke hadapan penonton Indonesia. Akhirnya, seluruh film yang mengeksplorasi wilayah dan bakat dari daerah terpencil di Indonesia tersebut berakhir dengan pengisahan yang monoton. Hal yang turut dialaami oleh Ari Sihasale dalam Serdadu Kumbang.

Dalam Serdadu Kumbang, penonton Indonesia kali ini diajak ke wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan menyimak sisi keseharian dari kehidupan penduduk daerah tersebut. Tokoh utama dalam film ini adalah Amek (Yudi Miftahudin), seorang anak laki-laki yang terlahir dengan sumbing pada bibirnya dan tinggal bersama ibunya, Siti (Titi Sjuman), dan kakaknya, Minun (Monica Sayangbati). Ayahnya sendiri, Zakaria (Asrul Dahlan), semenjak lama telah meninggalkan keluarga ini karena menjadi seorang tenaga kerja di negara Malaysia. Walau hidup dengan cacat fisik yang ia miliki serta kondisi keuangan keluarga yang terbatas, Amek adalah sesosok anak yang ceria. Ia bahkan seringkali menyulitkan ibunya akibat tingkah lakunya yang jahil, malas belajar dan lebih sering berkhayal untuk mengikuti jejak Najwa Shihab untuk menjadi seorang pembawa acara berita.

Sama sekali tidak ada sesuatu yang baru yang dapat ditawarkan Ari Sihasale dalam film yang menjadi kali ketiga ia duduk di kursi sutradara ini. Dengan berbagai kelemahan yang terdapat pada naskah cerita film ini, tidak dapat disangkal bahwa Serdadu Kumbang terlihat hadir sebagai sebuah film klise yang lagi-lagi mengangkat mengenai kehidupan para anak-anak yang berasal dari daerah terpencil di Indonesia. Naskah cerita yang menawarkan begitu banyak lapisan permasalahan dieksekusi dengan lemah oleh Ari Sihasale sehingga menjadi begitu monoton, cenderung membosankan dan dengan ending yang kurang begitu menarik. Durasi yang terlalu panjang serta tema dari jalan cerita yang sukar dimengerti oleh kalangan penonton muda kemungkinan besar akan membuat Serdadu Kumbang menjadi sulit untuk dicerna bagi mereka. Akhirnya, Serdadu Kumbang justru berakhir sebagai sebuah film datar dan tidak memberikan kesan apa-apa bagi para penontonnya selain perasaan lelah akibat jalan cerita yang terlalu klise untuk disaksikan.

   Rating IMDB     :  4.4/10  (Detail IMDB)
   Tangfal Rilis    :  16 June 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Asrul Dahlan, Lukman Sardi
   Genre               :  Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kumpulan Film Bioskop - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger