Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan

Langit biru (2011)

Dalam mendukung penggalakan kampanye anti bullying serta anti kekerasan di kalangan anak-anak sekolah, rumah produksi Blue Caterpillar Films bekerjasama dengan Kalyana Shira Films merilis Langit Biru, sebuah film musikal anak yang naskah ceritanya ditulis oleh Melissa Karim dengan bantuan supervisi dari Nia Dinata. Dalam Langit Biru, Tomtim (Jeje Soekarno) merupakan seorang anak laki-laki yang memiliki bakat luar biasa dalam hal menggambar. Dalam kesehariannya, Tomtim dapat ditemui sedang berkumpul bersama dua sahabatnya, Biru (Ratnakanya) dan Amanda (Beby Natalie). Selalu menghabiskan kesehariannya dengan dua teman perempuannya, Tomtim kemudian menjadi sasaran bulan-bulanan Bruno (Cody McClendon) di sekolahnya. Yang lebih parah, Tomtim sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melawan dan seringkali menunggu untuk ‘diselamatkan’ dan dibela terlebih dahulu oleh teman perempuannya, Biru.

Tomtim bukanlah satu-satunya korban kejahilan dan kenakalan Bruno beserta tiga teman akrabnya, Jason (Patton Otlivio), Samuel (Nathan Carol) dan Erlangga (Jonathan Prasetyo). Di sekolahnya, keempat anak ini memang dikenal sebagai biang permasalahan. Merasa tidak tahan lagi melihat perlakuan Bruno dan teman-temannya, Biru akhirnya mengusulkan pada Amanda dan Tomtim untuk memanfaatkan sebuah proyek yang diberikan guru mereka, Miss Dewi (Becky Tumewu), untuk mengungkap semua seluruh tindak-tanduk kenakalan Bruno di sekolah. Biru, Amanda dan Tomtim memang dapat dengan mudah untuk merekam seluruh perbuatan nakal Bruno dan teman-temannya di sekolah. Namun, ketika mereka berusaha untuk memasuki kehidupan Bruno lebih mendalam, sebuah kenangan pahit yang telah lama disimpan oleh Bruno rapat-rapat pun akhirnya mulai terbuka.

Dengan tema anti bullying dan anti kekerasan yang ingin dibawakan film ini, Melissa Karim mampu memulai jalan cerita film ini dengan cukup baik. Pada awalnya memperkenalkan tiga karakter protagonis utama yang menjadi fokus jalan cerita film ini, bagaimana latar belakang kehidupan mereka serta bagaimana keseharian mereka dimulai, Langit Biru juga secara perlahan mulai memasukkan konflik yang dihadapi oleh Biru, Amanda dan Tomtim dengan Bruno dan teman-temannya. Dirangkai dalam sebuah jalinan cerita yang memiliki ikatan unsur hiburan yang kuat, serta semakin dipermanis dengan lagu-lagu yang terdengar cukup catchy dan ditampilkan dengan menggunakan tata koreografi yang menarik, bagian perkenalan awal penonton terhadap kisah awal Langit Biru harus diakui akan meninggalkan cukup banyak kesan.

Sayangnya, hal tersebut tidak begitu bertahan terlalu lama. Seiring dengan berjalannya cerita film ini, Langit Biru kemudian memperdalam lagi latar belakang kehidupan setiap karakter yang hadir di dalam jalan ceritanya. Semakin banyak intrik cerita dan semakin banyak kehadiran karakter-karakter pendukung. Secara perlahan, beberapa karakter yang tadinya hadir dalam porsi yang cukup banyak menghilang dan digantikan oleh kisah-kisah yang datang dari karakter pendukung. Disinilah pola penceritan Langit Biru terasa begitu terpecah. Masuknya beberapa plot cerita tambahan yang sama sekali tidak terkait dengan plot cerita utama – seperti keikutsertaan karakter adik Amanda, Brandon (Brandon De Angelo), dalam sebuah kontes menari yang ditampilkan secara panjang atau kisah romansa ramaja yang mulai tumbuh antara karakter Amanda dengan karakter Jason – juga membuat penceritaan Langit Biru terasa semakin bertele-tele.

Karakter-karakter anak yang terdapat di dalam jalan cerita Langit Biru diperankan oleh aktor dan aktris muda yang mungkin belum pernah atau masih minim mendalami dunia akting. Untungnya, di bawah pengarahan sutradara Lasja F. Susatyo, para aktor dan aktris muda tersebut tampil cukup maksimal, baik ketika berusaha untuk menghidupkan peran mereka, mengucapkan barisan-barisan dialog yang harus mereka ucapkan atau menampilkan koreografi dari lagu-lagu yang mereka tampilkan. Ratnakanya yang berperan sebagai Biru tampil dengan kemampuan akting yang paling maksimal ketika ia berhasil mengeksplorasi seluruh emosi yang harus dijalani karakter yang ia perankan. Pun begitu, beberapa kali masih terasa tercipta suasana awkward yang dapat dirasakan dalam permainan akting setiap aktor dan aktris muda tersebut, walaupun hal tersebut sama sekali tidak dapar dianggap sebagai sebuah masalah yang besar dan mengganggu. Departemen akting Langit Biru juga diperkuat oleh penampilan aktor dan aktris senior seperti Ari Wibowo, Donna Harun hingga Ira Duaty juga cukup mampu menambah kokoh kekuatan penampilan akting di film ini.

Tidak seperti kebanyakan film musikal anak Indonesia lainnya – yang terlihat kesulitan untuk menyeimbangkan antara penceritaan drama dan penceritaan musikal di dalam jalan ceritanya – Lasja F. Susatyo berhasil menampilkan elemen musikal pada Langit Biru dengan menarik dan dalam porsi yang cukup, tidak kurang dan tidak berlebihan. Lagu-lagu yang ditampilkan secara keseluruhan juga menarik, dan semakin terkesan catchy setelah ditampilkan dalam balutan koreografi yang handal. Kekurangan Langit Biru memang terletak pada naskah ceritanya yang bergerak semakin melebar seiring berjalannya cerita film ini. Hasilnya, dengan tema tunggal yang sebenarnya telah diemban semenjak awal, penceritaan Langit Biru malah berakhir dengan kesam bertele-tele. Pun begitu, Langit Biru masih cukup menarik untuk disimak, khususnya dengan adanya dukungan akting para pemerannya yang tidak mengecewakan serta kualitas tata produksi yang mampu menghasilkan tata gambar dan suara yang meyakinkan.

   Rating IMDB     :  5.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  17 November 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Annisa Pinandita & Joko Anwar
   Genre               :  Drama | Musical
   Size                  :  500MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-500MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tarung: City of the Darkness (2011)

Opini-opini rasa penasaran untuk menonton film ini dari berbagai movie blogger terlintas keluar ketika melihat trailer film yang awalnya berjudul Serangan Maut ini. Dan entah kenapa tiba-tiba masuk LSF dengan judul City Of Darkness atau Tarung. Rasa penasaran yang terlontar dari mereka pun dirasakan gue secara pribadi, rasanya tidak salah dan lebai jika terjadi semua seperti ini. Karena “kick ass” alias sutradara film ini pun sebenarnya lebih terkenal dengan film-film horror yang belum memiliki tujuan arah yang jelas. Lalu bagaimanakah hasil secara keseluruhan film ini sesungguhnya? Simak review curhatan josep berikut ini tentang film Tarung (City Of The Darkness).

Semua berawal dari kisah persahabatan empat anak panti asuhan Bunda Mulia milik Ibu Lastri yang diantaranya Reno, Choky, Daud, dan Galang. Persahabatan mereka bisa dibilang cukup kuat sampai usia mereka dewasa. Bahkan sampai salah satu teman mereka, Reno, yang keluar dari penjara pun karena masalah pembunuhan, mereka tetap solid seperti sedia kala. Setelah Reno keluar pun ternyata bos preman dari anak buah yang pernah dibunuh Reno, balas dendam terhadap dirinya. Galang dan Daud sebagai teman Reno yang begitu emosional tidak mau menerima semua ini begitu saja. Tidak jauh berbeda pula dengan Choky, yang terlilit hutang oleh bandar narkoba dan kini pun harus menanggung resiko dikejar-kejar segerombolan misterius. Persahabatan mereka pun kali ini diuji dengan motto mereka “Satu terluka, semua terluka”.

SAMA SAJA & SEDIKIT BERTOBAT! Yak kata-kata itu yang terlintas di pikiran gue setelah menyaksikan film Nayato Fio Naula kali ini yang mulai bergeser ke arah action. Kenapa sama saja? Yak konsep cerita, mau dibawa kemana film ini, dan terutama yang paling penting lokasi tempat yang tidak jauh berbeda sama sekali! Malah disini totalitas parahnya Nayato terlihat sangat jelas. Gue mengagumi sosok beliau bisa dibilang karena pengambilan gambar yang indah, stabil dan enak dipandang ketika ditonton. Namun kali ini gue dikecewakan beliau karena hampir 5 x gue hitung ketidakstabilan pengambilan gambar dan gambar yang dihasilkan kebanyakan blur alias tidak jelas!

Kenorakan lainnya Nayato di film ini antara lain banyaknya pengambilan gambar kereta api yang terlintas. Memang sih kereta api sudah langganan Nayato, tapi apakah wajar jika pengambilan gambar kereta api sampai 15-16 kali sepanjang 85 menit? Gue rasa ini terlalu berlebihan, akan tetapi kalau ini `da hubungannya dengan Hantu Lintasan Kereta Api yang konon kabarnya dia akan buat ya tidak masalah juga sih *gosip*. Belum lagi editing dan cara pengambilan gambar aksi dari apra pemain terlihat begitu aksar dan cepat sekali, sehingga tidak terasa “feel” bertarung disini. Mungkin dalam benak Nayato kata “tarung” itu yang penting pukul-pukulan dengan alat dan bisa menumpahkan banyak darah dimana-mana yang sampai membuat gue bingung sampai segitunyakah bertarung sebagai seorang lelaki?

Pengambilan gambar yang tidak fokus, ketidakindahannya gambar yang dihasilkan, aksi tarungnya yang terlihat kurang greget, nah sekarang masalahnya di bagian musik. Opening musik lebai mengingatkan gue seperti film-film horror Nayato lainnya, gue nyaris sakit kuping mendengarnya padahal genre film ini action tapi seperti thriller dan horror. Di beberapa bagian film ini untungnya scoring cukup terlihat drama sekali. Sumpah gue kaget banget kalau ternyata Nayato bisa menampilkan drama yang cukup menyentuh dan sedikit religi di filmnya seperti ini! Tapi kembali lagi ke bagian editingnya, karena menempatkan perpindahan gambar seperti tidak dipikirkan dengan baik. Contohnya, ketika ada adegan yang cukup bermoral dan sopan, eh tiba-tiba adegan berikutnya menampilkan adegan bikini di kolam renang! WTF with you Nayato?!

Para pemain disini bisa dibilang “reuni keluarga anak kesayangan Nayato”. Bisa dibilang Cuma Zacky Zimah dan Azis Gagap yang absen disini, sisanya para pemain cowo yang pernah nongol sebagai pemeran utama ataupun pendukung di film-filmnya Nayato dahulu. Sebut saja, Guntur Tri Yoga, Khrisna Patra, Daud Radex, Raymond Knulich, Fikry Baladraf, Gouw Hartono dan terakhir Volland. Untuk pemain wanitanya bisa dibilang Cinta Dewi yang cukup beruntung bisa dipilih Nayato di filmnya kali ini bersama “pemain cowo kesayangan Nayato” yang memiliki fisik dan tampang yang cukup baik. Namun disini gue cukup ilfill melihat penampilan Cinta Dewi. Jika dibandingkan penampilannya di Pelet Kuntilanak beberapa bulan lalu, gue lebih sreg melihat dirinya disana, terutama bagian paling sensitif sekalipun yaitu ketiak. Oalah apa krena Cinta saking excited mendapatkan peran bersama-sama para pria maka dirinya sampai lupa membersihkannya?

Satu lagi yang cukup parah dari film ini adalah bagaimana kekuatan dari para pemain yang begitu kuat dari tembakan peluru ke perut namun bisa tetap bertarung, walaupun terkena luka baret di muka namun besoknya pulih dengan cepat tanpa bantuan dokter sama sekali. Dan terakhir, luka yang dialami para pemain pun bisa berpindah seenak jidat bagian make-up artistiknya! Kayaknya gue tidak usah memberikan kesimpulan secara jelas lagi terhadap film ini. Beberapa curhatan gue diatas sepertinya sudah memberikan gambaran apakah sesungguhnya yang terjadi di film TARUNG. Akhir kata silahkan berTarung sendiri di bioskop kesayangan anda!

   Rating IMDB     :  4.5/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  15 September 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  BlurayRip (BAGUS)
   Bintang             :  Guntur Triyoga, Volland Humonggio
   Genre               :  Action
   Size                  :  800MB MKV  
 
Indowebster-BlurayRip-800MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


The Dancer (2011) / Sang Penari (2011)

Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.

Srintil (Prisia Nasution) adalah seorang gadis yang semenjak lama mendambakan bahwa dirinya akan terpilih sebagai seorang ronggeng. Tidak hanya sebagai wujud terima kasihnya pada sang leluhur, Ki Secamanggala, karena telah memberikan kehidupan maksmur pada warga Dukuh Paruk, namun juga sebagai pengobat bagi rusaknya nama baik orangtuanya yang secara tidak sengaja pernah membunuh banyak warga Dukuh Paruk lewat tempe bongkrek buatan mereka. Dengan bantuan Rasus (Oka Antara), pria yang telah menjadi sahabat Srintil semenjak kecil dan kini memendam perasaan cinta yang mendalam kepadanya, Srintil berhasil terpilih sebagai seorang ronggeng. Dan layaknya seorang ronggeng, Srintil memulai masa tugasnya untuk ‘melayani’ masyarakat. Rasus yang tidak rela berbagi cinta dan kasih Srintil memilih untuk menyingkir dari Dukuh Paruk. Namun, sebuah elegi zaman – dan tragedi pahit – akan kembali mempertemukan mereka dan memberikan kisah akhir pada perjalanan cinta antara keduanya.

Ada banyak hal yang coba disarikan Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Namun, konflik cinta segitiga antara karakter Srintil, Rasus serta kecintaan dan pengorbanan Srintil pada dunia ronggeng jelas merupakan sebuah fokus sekaligus kekuatan utama mengapa Sang Penari dapat tampil begitu memikat di setiap perjalanan kisahnya. Layaknya kisah-kisah cinta klasik yang mampu menyentuh setiap penontonnya, Salman, Ifa dan Shanty mampu membangun karakterisasi yang kuat bagi karakter Srintil dan Rasus. Keduanya tampil dengan rasa cinta yang kuat antara satu dengan yang lain. Namun, rasa cinta tersebut kemudian tertutupi dengan ego mereka atas kecintaan mereka terhadap sisi kehidupan lain mereka. Pertentangan inilah yang membuat kisah cinta antara Srintil dan Rasus tidak pernah mampu menyatu dengan baik dan Ifa Isfansyah berhasil membangunnya dengan sangat cermat sehingga mampu membentuk sisi emosional yang kuat dari penonton.

Tak hanya menyuguhi kisah cinta, Sang Penari juga mampu memberikan deretan kisah pendukung yang kuat kepada para penontonnya. Mulai dari bagaimana cara pandang tradisional mengenai kehidupan para ronggeng, merasuknya kehidupan (serta cara pandang) modern secara perlahan kepada kehidupan warga desa Dukuh Paruk, sebuah twist atas tragedi kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia yang kemudian secara cerdas dijadikan benang merah kepada kehidupan para masyarakat Dukuh Paruk. Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memang adalah salah satu karya sastra penting dalam catatan literatur Indonesia yang mampu mengolah begitu banyak faham, ideologi dan pemikiran di balik kisah cinta yang menjadi menu utamanya. Tidak mengherankan memang, jika ketika berada di tangan yang tepat, Ronggeng Dukuh Paruk mampu diterjemahkan menjadi sebuah film yang benar-benar mampu tampil kuat. Dan Sang Penari, tanpa diragukan lagi, adalah wujud dari terjemahan kuat tersebut.

Selain mendapat sokongan jalan cerita yang cerdas dan kuat, tata produksi Sang Penari merupakan tata produksi kelas atas yang sangat jarang untuk ditemui di film-film Indonesia belakangan ini. Pemerhatian terhadap detil yang mendukung kekuatan cerita di film ini tampil begitu kuat. Mulai dari tata busana, tata rias hingga dekorasi tata visual yang menjadi latar belakang cerita dihadirkan dengan begitu jeli dan seksama. Tata sinematografi yang diberikan Yadi Sugandi dalam Sang Penari juga benar-benar menghipnotis! Tidak hanya indah, namun mampu berbicara secara emosional. Lihat adegan akhir film ini dimana Yadi menyediakan sebuah gambar dengan lanskap luas atas kepergian karakter Srintil dan Sakum. Sebuah pilihan gambar yang membuat ending film ini terasa begitu pedih dan menyesakkan terlepas dari senyum yang dihadirkan dua karakter yang berada dalam tatanan gambar tersebut. Duo Aksan Sjuman dan Titi Sjuman juga berhasil kembali memberikan dukungan musik yang mampu menghidupkan nuansa setiap adegan dalam film Sang Penari.

Tatanan naskah cerita dan produksi yang demikian kuat kemudian berhasil mendapatkan perwujudan akting yang begitu sempurna dari para pengisi departemen akting film ini. Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan yang benar-benar mampu tampil hidup untuk kemudian merasuk ke benak setiap penonton Sang Penari. Lihat saja tatapan dan liukan tubuh Prisia ketika karanter Srintil sedang beraksi sebagai seorang ronggeng. Pria mampu melakukannya dengan sempurna! Kemampuan dramatisasi Prisia juga begitu kuat ketika menampilkan karakter Srintil dalam kesehariannya. Penuh kelemahlembutan namun begitu tegar dan sukar untuk dijatuhkan. Begitu pula dengan Oka Antara yang berhasil menghantarkan transformasi kepribadian karakter Rasus dengan baik. Di balik segala keluguan yang diwujudkan Oka untuk karakter Rasus, karakter tersebut sama sekali tidak pernah terlihat lemah maupun palsu. Begitu pula ketika karakter Rasus menjelma menjadi sesosok karakter yang lebih tangguh. Oka Antara berhasil menjadikan transformasi tersebut dengan begitu meyakinkan. Chemistry yang tercipta antara keduanya juga begitu kuat sehingga membuat hubungan cinta antara karakter Srintil dan Rasus begitu memikat sekaligus mampu menyentuh hati dan perasaan setiap orang yang menyaksikan kisah cinta tersebut.

Penampilan apik Prisia Nasution dan Oka Antara juga didukung oleh penampilan kuat para jajaran pemeran pendukung Sang Penari. Para jajaran pemeran pendukung yang diisi dengan nama-nama aktor dan aktris senior seperti Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo hingga Lukman Sardi dan Hendro Djarot mampu mendapatkan pengarahan yang sangat baik dari Ifa Isfansyah yang kemudian berhasil mengeluarkan kemampuan akting terbaik setiap pemeran film ini. Jika terdapat sedikit titik lemah, hal tersebut terdapat pada karakter Bakar yang diperankan oleh Lukman Sardi. Bukan karena Lukman Sardi gagal dalam menghidupkan karakter yang ia perankan. Namun imej seorang Lukman Sardi terkesan terlalu bersih untuk dapat memerankan karakter Bakar yang memiliki agenda tersembunyi dalam setiap kegiatannya. Hasilnya, walau ditampilkan dengan sangat baik, sedikit sulit untuk mempercayai Lukman Sardi dalam peran yang sedikit berbeda dari peran-peran yang perbah ia tampilkan sebelumnya.

Sang Penari bukannya hadir tanpa cela — beberapa bagian cerita kurang mampu tergali lebih dalam dan beberapa karakter pendukung juga kurang mampu untuk ditampilkan secara lebih luas. Walaupun begitu, apa yang dicapai Ifa Isfansyah lewat Sang Penari adalah sebuah pencapaian yang sangat fenomenal. Naskah yang diadaptasi Ifa bersama Salman Aristo dan Shanty Harmayn mampu menangkap seluruh esensi emosional yang terkandung dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ifa juga kemudian didukung oleh tim produksi yang solid. Gambar-gambar yang indah karya Yadi Sugandi menyatu dengan sempurna dengan tata musik arahan Aksan Sjuman dan Titi Sjuman serta diperkuat lagi oleh editing yang dilakukan oleh Cesa David Luckmansyah. Di bagian depan kamera, Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan terbaik yang dapat penonton peroleh dari aktor dan aktris Indonesia sepanjang tahun ini. Untuk mengatakan Sang Penari adalah sebuah karya terbaik tahun ini akan terdengar seperti sebuah perendahan kualitas yang dicapai film ini. Sang Penari adalah salah satu film terbaik yang pernah muncul dalam sejarah panjang industri film Indonesia dan hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan!

   Rating IMDB     :  7.5/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  10 November 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  TVrip (BAGUS)
   Bintang             :  Prisia Nasution & Slamet Rahardjo
   Genre               :  Drama Romance
   Size                  :  425MB MKV  
 
Indowebster-TVrip-425MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------


Tarung (2011)

Jika mendengar Nayato membuat film horor, sepertinya saya tidak lagi harus kaget atau dia membuat film drama, itu juga sudah “keahliannya”. Responnya sih sama saja seperti kalau setiap pagi, tiba-tiba saya mules-mules pengen kebelakang, itu sudah biasa. Gimana kalau tiba-tiba Nayato membuat film action? sambil balik badan lalu ngesot saya pastinya menjawab “tidak mungkin”. Namun saya lupa satu hal, jika tidak ada yang tak mungkin bagi seorang dengan nama lengkap Nayato Fio Nuala, kalau dia bisa membuat kuntilanak kesurupan pocong kemudian lompat-lompat, masa sih bikin film berantem-beranteman saja tidak bisa, iya nga? “bodo ah”. Kalau tidak salah, saya tuh pertama kali mendengar tentang “Tarung” justru dari website film berbahasa Inggris, di artikel berita tersebut “Tarung” waktu itu masih berjudul “Fight: City of Darkness” dengan poster film yang didalamnya terdapat wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi. Tebakan saya langsung menuju ke satu nama “pasti ini buatan Nayato”, tapi disana tidak ada nama orang yang punya nama lain Koya Pagayo ini (jika membuat film horor), melainkan nama yang tidak familiar, ditambah namanya berbahasa Mandarin pula.

Kalau tidak salah lagi (maklum sudah agak pikun akibat kebanyakan nonton film-film om Nayato), waktu itu juga “Fight” ini sempat bikin penasaran orang-orang, sempat juga ada “dibahas” seupil di twitter, ini film siapa? –tapi saat melihat cuplikan trailernya, saya semakin yakin ini film Nayato, dilihat dari gaya trailer yang memang sangat “Nayato banget”. Ternyata tebakan saya tidak meleset, jelang tanggal rilisnya di bulan September 2011, “Fight” memperlihatkan jati diri yang sebenarnya, di posternya terpampang jelas nama Nayato Fio Nuala, selain itu judulnya pun berubah menjadi “Tarung (City of Darkness)”. Sebuah judul yang sangat pas untuk sutradara paling produktif di negeri ini, ada kata-kata “Darkness”, yang mana cocok dengan gaya khas Nayato di film-filmnya, yaitu remang-remang gimana gitu. Entah ini tidak disengaja atau memang sengaja untuk mengolok-olok dirinya sendiri, hanya dia dan pocong yang tahu.

“Tarung” boleh saja punya genre yang beda dari film Nayato kebanyakan, action dibalut aksi martial-art tapi tetap saja film yang katanya baru rampung dalam waktu setahun ini, masih sangat lekat dengan ciri khas Nayato. Untuk soal cerita yang lagi-lagi ditulis oleh Ery Sofid (Film Pocong A-Z) dan kali ini juga dibantu Ian Janpanay (Virgin 2), “Tarung” memang tidak menawarkan sesuatu yang baru. Unsur-unsur yang nantinya ada di dalam cerita pun sudah pernah tersaji di ratusan film yang pernah Nayato buat, sebut saja anak muda yang orang tuanya nga jelas, bandar narkoba yang tidak pernah diperlihatkan dia jual narkoba atau pulsa, persahabatan tanpa chemistry, kisah cinta yang dipaksa romantis tapi malah terlihat bodoh, untung tidak ada lagi dialog macam “Kalo tetek aku kempes, pantat aku penyok, kamu masih cinta aku?”.

Reno, Choky, Daud, dan Galang sudah diceritakan bersahabat sejak kecil, ketika mereka dipertemukan di sebuah panti asuhan Bunda Mulia pimpinan Ibu Lastri. Tapi jangan deh harap kita akan diperlihatkan adegan manis bagaimana kisah persahabatan tersebut bisa terjalin penuh drama, Nayato lebih memilih untuk memotong kisah masa kecil dan fokus ke masa suram anak-anak ini setelah dewasa. Reno baru saja keluar dari penjara, Choky kerjanya maling DVD (bajakan pula), begonya bukannya ditonton tuh DVD dibuang lagi. Daud satu-satunya yang paling bener, punya usaha yang bisa dibilang halal, kemudian Galang yang paling tidak jelas, kerjanya juga tidak jelas, hobinya pamer kalau dia baru saja bisa menghisap rokok dengan gaya cool, merasa paling jagoan, dan terakhir cowok yang memiliki rambut gimbal ini juga merasa paling suci, apalagi setelah bertemu Astrid, yang dikenalnya di sebuah club. Masalah hadir ketika ternyata musuh-musuh lama Reno tidak membiarkan dia betul-betul bebas, entah karena masalahnya apa, bos narkoba dan anak buahnya pun sekarang mengincar Reno, sampai-sampai merusak panti asuhan hanya untuk mencari Reno. Sahabat-sahabat Reno pun tidak tinggal diam, dia akan membantu Reno… sayangnya ketika mau dibantu, Reno justru “disembunyikan” oleh Nayato.

Seperti yang saya bilang diawal-awal, “Tarung” masih tidak lepas dari cacat permanen yang selalu ada di film-film Nayato, yah termasuk saya tidak lagi heran ketika karakter seperti Reno tiba-tiba menghilang tidak lagi diceritakan, lalu tiba-tiba muncul lagi pada saat film mau selesai. Gaya “menculik” salah-satu karakter ini tidak begitu mengganggu ketimbang cara Nayato bercerita, dengan cerita yang ditumpang-tindih seenaknya saja. Belum lagi editing khas film Nayato yang dari adegan satu ke adegan lain selalu berakhir berantakan, disini dosis merusak otaknya pun tampaknya dilipat-gandakan. Nah ditambah selipan-selipan footage tidak penting diantara cerita yang makin absurd, yang jika saya hitung-hitung malah lebih banyak dari adegan action di film ini. Entah karena kecintaan pada kereta api atau bagaimana, Nayato asyiknya menampilkan adegan kereta api lewat, hmm jika saya tidak salah hitung sih lebih dari 10 kali yang disebar random tidak karuan. Jika saja adegan-adegan mubajir yang hanya dipakai untuk kereta api lewat ini dikumpul, mungkin bisa dipakai untuk menambah satu adegan baku hantam lagi, karena kok saya tidak bisa melihat jelas mereka yang ada di film ini sedang berkelahi atau main pukul saja ke segala arah, atau justru menari jaipongan.

Adegan aksi pukul-pukulan memang terbukti ada di “Tarung”, jadi tidak asal tipu tampil di trailer saja. Namun deretan adegan yang dipersiapkan untuk memacu adrenalin, malah sebaliknya memacu darah untuk naik ke ubun-ubun. Adegan baku hantam disajikan lagi dengan esekusi yang membuat otak ini mengkerut, potongan scene ke scene-nya sangat gaib, tidak kelihatan oleh mata saya, alhasil adegan perkelahian super-cepat itu jujur saja sama sekali tidak bisa dinikmati. Bag-big-bug, tiba-tiba semua orang berdarah… bag-big-bug saya mengedip dan setelah membuka mata sudah ada orang yang terkapar disana. Padahal Nayato sudah baik hati tidak mengemas “remang-remang” itu adegan-adegan perkelahian, tapi tetap saja saya tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ditonjok dan kena tonjok, semua berlalu dengan sekejap mata, penonton kecewa. “Tarung” juga main darah yang muncrat kesana-kemari dan Nayato juga punya adegan action yang cukup menarik di dalam angkot, tapi dua itu tidak menyelamatkan film ini dari “kekalahan”-nya yang telak. Semua serba dibuat menyebalkan, tidak bisa dinikmati, drama dan action-nya berantakan, karakter-karakternya bikin saya ingin melempar mereka satu-persatu dengan gas tiga kilogram, yang disini digantikan dengan tabung pemadam. “Tarung” walaupun berada di dunia film aksi-aksi-an, tetap saja jadi “horor”, karena Nayato toh tidak pernah mau belajar, mengulang kesalahan-kesalahannya dan lebih memilih untuk men­jiplak saja ciri khasnya yang buruk itu ke film yang punya trailer menjanjikan ini.

   Rating IMDB     :  6.9/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  15 September 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Christian Sugiono, Ringgo
   Genre               :  Action | Drama
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Kalung Jelangkung (2011)

Kalung Jelangkung adalah sebuah film horor layar lebar Indonesia dan disutradarai oleh Koya Pagayo. Film ini akan dibintangi oleh Zaky Zimah, Soraya Larasati, Ghea D’Syawal, Rozi Mahali, Yessa Iona Gaffar, Reymon Knulloh, Munajat Raditya. Film ini menceritakan tentang Kiki dan beberapa temannya yang berencana untuk pergi ke sebuah perkampungan untuk mengisi liburan mereka dimana mereka bebas untuk melakukan apa saja.

Suatu hari, Kiki bersama teman-temannya usil untuk mengadakan permainan jelangkung di sebuah bangunan tua. Berniat hanya untuk main-main saja berujung pada kesulitan, ketika Jelangkung yang mereka mainkan tiba-tiba bergerak dan bersuara dengan keras sambil menyebut namanya. Hantu yang masuk ke jelangkung tersebut mengaku bernama Yanti, ia adalah seorang gadis yang terbunuh oleh pacarnya yang tidak bertanggung jawab atas kehamilannya.

Mereka sontak melarikan diri karena panik dan takut. Di perjalanan menuju tempat penginapan, Kiki ditakut-takuti dengan kejadian tadi. Mereka mengerjai Kiki dengan meninggalkannya sendirian, hingga akhirnya Kiki malah tersesat ke sebuah kuburan. Di kuburan itu, Kiki menemukan sebuah kalung dan kemudian ia memakai kalung tersebut. Liburan telah usai, Kiki bersama temannya kembali ke Jakarta. Namun, seusai tiba di Jakarta, Kiki langsung jatuh sakit dan selalu mengigau menyebut nama Yanti, roh yang masuk pada Jelangkung itu.

Semua dokter terbaik dipanggil namun tak satu pun yang bisa menemukan penyakit Kiki. Akhirnya mereka meminta jasa seorang dukun. Ternyata sang dukun pun kesulitan untuk menyembuhkan Kiki. Kiki minta diantar ke kuburan yang ada di kampung. Sesampai di sana, Kiki sadar setelah ia mengembalikan kalung tersebut. Sebaliknya dukun justru yang kerasukan. Salah satu kawan Kiki, Benny, mengambil kalung yang sudah dikembalikan Kiki di atas kuburan, juga ikut kerasukan. Roh Yanti masuk kedalam tubuh Benny.

   Rating IMDB     :  0.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Zaky Zimah, Soraya Larasati
   Genre               :  Horror | Comedy
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Lost in Papua (2011)

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis sutradara Lost in Papua, Irham Acho Bachtiar, tertulis bahwa tujuan sederhana dari pembuatan Lost in Papua adalah “untuk menunjukkan keunikan dan kekayaan wisata budaya di Papua Selatan serta segala misterinya yang belum pernah Anda lihat.” Sebuah tujuan yang sangat mulia, tentu saja, mengeksplorasi keindahan alam luas Papua yang selama ini jarang disentuh oleh banyak pembuat film Indonesia. Tujuan yang mulia tersebut dilakukan Irham lewat film cerita, dan bukan dokumenter, dengan “kemasan yang dibuat lebih ringan dan bersifat hiburan dengan genre komersil, sehingga budaya yang disampaikan akan masuk ke anak anak muda yang sebelumnya tidak tertarik melihat budaya Indonesia.” Ringan? Hiburan? Komersil? Dengan apa yang dipaparkan Irham lewat film ini — yang berjalan dengan kisah yang semakin absurd ke penghujung filmnya, Lost in Papua lebih tepat digambarkan sebagai sebuah bencana berbentuk film yang diselimuti dengan keindahan alam Papua.

Salahkan hal tersebut pada penulis naskah film ini, Ace Arca dan Augit Prima, yang semenjak awal seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan jalan cerita film ini. Tidak sepenuhnya buruk, sebenarnya. Lost in Papua justru dimulai dengan sangat baik. Dibuka dengan adegan berunsur thriller yang melibatkan penampilan terbaik Edo Borne yang ia lakukan hanya selama 10 menit, Lost in Papua kemudian memperkenalkan penonton dengan karakter utama film ini, Nadia (Fanny Fabriana), yang ditugaskan oleh pemimpin perusahaannya, Pak Wijaya (Didi Petet), untuk berangkat ke Papua. Dan berbagai kelemahan film ini mulai terkuak satu persatu.

Pertama, sebelum memberikan penilaian buruk terhadap seluruh unsur pendukung film ini, mari memberikan selamat kepada Fanny Fabriana yang berhasil hingga penghujung film memberikan kemampuan akting yang sangat prima, terlepas dari berbagai adegan konyol dan tidak masuk akal yang ia lakukan. Saudara-saudara sekalian, jika Anda membutuhkan satu alasan untuk mengeluarkan uang dan menyaksikan Lost in Papua, maka Fanny Fabriana adalah alasan tersebut. Fanny berhasil memerankan sosok wanita yang kehilangan kekasihnya di awal film, berusaha untuk mencarinya di tengah-tengah hutan rimba yang kejam, berlari-lari menghindari kematian hingga harus melayani nafsu seorang kepala suku kanibal (yang berjenis kelamin wanita) dengan sangat anggun. Seluruh adegan tersebut melibatkan berbagai tampilan emosi dan Fanny mampu mengeluarkan setiap sisi emosi tersebut dengan sempurna. Bravo, Fanny!

Sekarang, mari kembali ke Lost in Papua secara keseluruhan. Seperti halnya Laskar Pelangi (2008) atau Denias, Senandung di atas Awan (2008), Irham Acho Bachtiar memutuskan untuk menggunakan pemeran pendukung dan figuran yang berasal dari tanah Papua untuk menjaga rasa orisinalitas jalan cerita film ini. Sayangnya, tidak seperti para sutradara dua film yang disebutkan sebelumnya, Irham masih belum memiliki kemampuan untuk mengeluarkan sisi akting terbaik dari para pemerannya yang notabene belum pernah terlibat dalam dunia peran sebelumnya. Hasilnya, banyak adegan yang seharusnya melibatkan permainan emosional yang mendalam menjadi terbuang begitu saja dan berjalan datar. Sangat datar.

Catatan: Nama Fauzi Baadilla sama sekali tidak disebut di sepanjang review karena ia tampil “sempurna” sebagai seorang “bajingan.” Hampir seperti tidak berusaha sama sekali. Tunggu, ia tampil dengan ekspresi yang sama di setiap adegan. Dan itu berhasil menghidupkan karakternya sebagai seorang “bajingan” dengan baik. Jika Anda tidak dapat menangkap nada sarkasme dalam kalimat tersebut maka mungkin akan lebih baik untuk menyebut Fauzi Baadilla sama sekali tidak berakting di sepanjang di film ini. Dia adalah seorang “bajingan” secara alami dan Anda akan membenci setiap kehadirannya di berbagai adegan di film ini.

   Rating IMDB     :  5.0/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  10 Maret 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :  Fauzi Baadilla, Fanny Fabriani
   Genre               :  Drama | Thriller
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

Pocong Ngesot (2011)

Saya tidak akan terkejut apabila setelah film “Pocong Ngesot” turun dari layar bioskop, akan ada film “Pocong Ngepot”, “Pocong Ngerangkak”, atau “Pocong Nge-boikot”. Saat dunia hiburan bioskop tanah air sedang terganggu kisruh antara importir film melawan pemerintah soal pajak, yang mana pada akhirnya (lagi-lagi) membuat “sesangsara” calon penonton bioskop alias rakyat karena beberapa film Hollywood yang seharusnya sudah tayang justru untuk sementara harus dikarantina sampai waktu yang belum ditentukan, kecemasan lain pun timbul, bagaimana nasib film-film luar lainnya, apalagi mulai bulan Maret sampai selanjutnya memasuki musim panas—yang notabennya diisi oleh film-film mega blockbuster—berjejer daftar film paling ditunggu, apakah film-film tersebut akan ditunda juga? tapi di luar itu, dengan adanya kisruh ini, bisa dibilang ada sisi positifnya juga. Apa-apa yang sebelumnya diketahui hanya segelintir orang, sekarang satu-persatu muncul ke permukaan dan publik pun tidak lagi buta. Banyak yang mulai menulis A sampai Z, dari film nasional yang selama ini dibebani pajak yang keterlaluan sampai daftar para pemain besar yang selama ini memonopoli impor/distribusi film di Indonesia.

Yah semoga masalah ini ada solusi terbaik (butuh proses yang tidak instan memang), film lokal “diselamatkan”, pemerintah mau “melirik” para sineas berbakat negeri ini, film nasional yang bermutu mendominasi bioskop, dan akhirnya penonton senang karena mereka punya pilihan menarik, film Hollywood serta film nasional yang berkualitas. Tapi untuk sekarang saya harus bersabar dengan film-film “cepat saji” yang masih aja bisa ngesot dan nyelip (nah nanti ada juga judul “Pocong Nyelip di Kancut) di jadwal tayang bioskop. Film-film seperti “Pocong Ngesot” semoga tidak melihat peluang “kisruh” ini sebagai lompatan aji mumpung, sebuah mimpi buruk bagi bioskop tanah air jika seluruh studio nantinya diisi teman-teman pocong, dari dedemit cebol gunung sebelah sampai kuntilanak botak goyang striptis. “Ketika pocong tak lagi loncat” seharusnya diganti saja, ketika pocong tak lagi punya wibawa sebagai hantu lokal, mendengar kata pocong saja kita sudah bosan, apalagi dengan adanya tambahan embel-embel “ngesot” malah tambah me-muntahkan, bukan muak lagi. Seharusnya asosiasi pocong sewilayah Indonesia perlu tuh mengadakan boikot untuk tidak lagi tampil di film-film horor yang hanya bisanya melukai harga diri mereka sebagai hantu pocong. Alih-alih menakuti orang, pocong kini bisa dipukuli sendal, dikeroyoki sambil ditutup keranjang, dikentuti, ditampar, sampai disuruh bergoyang striptis. Oh iya saya lupa, “Pocong Ngesot” ini kan komedi horor, jadi wajar saja kalau ada adegan-adegan norak tersebut, wajar juga dong kalau saya muntah.

Nayato tetap akan menjadi Nayato, setelah saya sempat “memuji” (sekarang jadi agak menyesal) dia di “Kalung Jailangkung”, sutradara paling produktif tahun lalu ini kembali ke alamnya, dengan membuat film yang lagi-lagi hanya numpang taruh poster di bioskop dan laku tidak laku urusan belakangan, yang terpenting ada judul pocong-nya. “Pocong Ngesot” kembali menghadirkan pemain dan terutama lokasi yang sama, bedanya kali ini peran sentral Zaky Zimah, yang di trilogi komedi horor sebelumnya jadi ujung tombak untuk menciptakan kelucuan, sekarang digantikan oleh Aziz Gagap. Mungkin karena Nayato sendiri sudah bosan atau karena keduanya, Aziz dan si pocong, punya kesamaan yang jelas, lihat saja mereka sama-sama punya jambul  (krik…krik…krik, garing banget nga sih). eh ada Leylarey Lesesne, nama yang tidak asing di film-filmnya Nayato, karena dia memang anak kesayangannya, entah kenapa jika ada Leylarey di film, pasti Nayato lagi-lagi “kesurupan” dan tidak tahan memasukkan adegan mandi beribu-ribu kali. Gaya khasnya memunculkan pocong demi pocong di kamar mandi pun ada difilm ini.

Saya sepertinya tidak perlu menjelaskan lagi panjang lebar sinopsis “Pocong Ngesot” ini, sudah lumrah di film-film dengan nama Nayato cs. terpampang sebagai sutradara jika cerita tak jadi persoalan penting, biarkan berantakan tak karuan, yang paling penting itu yah memasukkan sebanyak mungkin adegan penampakan hantunya. Cerita bisa dibilang hanya muncul terakhir, hanya sepersekian detik, itupun dipaksakan untuk menyibak tabir misteri siapa si pocong sebenarnya. Anehnya setelah terungkap, justru menimbulkan satu pertanyaan lagi (saya juga bodoh kenapa harus serius memikirkan logika di film yang memang dibuat tidak serius), jika yang dibunuh itu seorang wanita kenapa yang muncul malah pocong laki-laki, jeng…jeng..jeng! plus berkeliaran juga tuyul-tuyul yang entah nyasar dari mana, berlarian tidak jelas yang perannya pun dipertanyakan, mau bergabung dengan pocong menakuti film ini atau main lari-larian bersama kak Leylarey.

Saya lupa kapan tepatnya hantu-hantu ini mulai dimunculkan Nayato, yang pasti awalnya saja sudah tidak jelas, lomba makan cabe dengan pemain-pemain yang wajahnya sudah sangat familiar dengan akting yang tidak jauh berbeda, malah bisa dibilang sama saja. Tapi setelah muncul, saya tidak akan lupa wajah memelas si pocong, kelihatan sekali dia tidak ikhlas main di film ini, apalagi dipaksa ngesot. Lompat saja sudah sangat menguras tenaga gaib, eh sekarang disuruh ngesot, capek sudah pasti plus kain kafan yang baru saja di beli langsung kotor, itu menjelaskan kenapa muka pocong kecut selalu (seharusnya film ini diberi judul pocong kecut saja). Apalagi dengan memakai trademark ngesot yang sudah lebih dahulu dipakai suster ngesot, saya yakin si pocong tambah stress karena akan menghadapi gugatan cerai…eh maksud saya gugatan hukum, cong pocong apes banget nasibmu. Belum lagi di film ini dia dianiaya habis-habisan, dari ditampar sendal sampai diberakin, kelihatan sekali betapa jeniusnya “Pocong Ngesot” dalam urusan melontarkan komedinya yang garing didampingi oleh Azis dan kawan-kawan yang juga tidak pernah berhasil menghadirkan komedi yang benar-benar lucu, kompak pocong dan pemain sama garingnya. “Pocong Ngesot” untuk keseratus-ribunya hanya akan menjadi film Nayato yang sangat mudah dilupakan, bahkan mungkin ketika penonton mulai berdiri dari kursi bioskop. Kapan yah Nayato membuat film macam ‘Lewat Tengah Malam’ lagi?

   Rating IMDB     :  1.8/10  (Detail IMDB)
   Tanggal Rilis    :  24 Februari 2011 (Indonesia)
   Kualitas Video  :  DVDrip (BAGUS)
   Bintang             :   Aziz, Keira Shabira
   Genre               :  Horror | Comedy
   Size                  :  400MB MKV  
 
Indowebster-DVDrip-400MB-MKV  : 
PASSWORD : oliphdhian
Download File
Torrent-HDRip-700MB-Avi  (Single File) : 
Download File
Mediafire Alternatif Link HDRip: 
----------------------------------------------
Jika Linknya Rusak 
atau bingung cara downloadnya 
informasikan Disini (Klik Disini)
----------------------------------------------
NOTE:
Terima Kasih
----------------------------------------------

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kumpulan Film Bioskop - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger